Posted on 5 Oktober 2009 by Mangonar Lumbantoruan
Generasi Mie Instant
Di desa saya
1. Suatu waktu, dengan seorang anak:
Nga mangan ho? (Sudah makan?)
Nunga! (Sudah!)
Aha ingkanmu? (Apa lauknya?)
……. mie! (menyebut merek sebuah produk mie instan).
2. Suatu siang di satu rumah, masih di desa saya, ketika ayah dan ibu istrahat siang dari
kerja di ladang dan anak-anak baru kembali dari sekolah
“Lompahon jo …… mie i satongkin, asa lumangku iba mangan” suruh sang ayah.
(Masak kan dulu ….. mie itu sebentar, biar lebih lahap awak makan)
“Horeeeeeeeee…….. tabo na i. Godang lompa da uma!” teriak anak-anak.
(Horeeee, enak kali. Banyak-banyak masak ya ma!
3. Sore menjelang malam di Lapo
“Baen jo bo ….. mie i sada, painte sae inanta mangalompa” seru si ayah.
(Tolong buatkan seporsi …… mie, nunggu Ibu siap masak di rumah!)
Dengan pola konsumsi (asupan gizi) seperti di atas, performan (baca: prestasi) seperti apakah yang bisa dicapai anak-anak di atas? Tidakkah mereka berpontensi menjadi the lost generation (baca: Batak Tembak Langsung) pada 10 – 15 tahun ke depan?
DIarsipkan di bawah: Na marragam (micellaneous) | Ditandai: anak-anak, performan, pola konsumsi, prestasi, the lost generation | 10 Komentar »
Posted on 30 September 2009 by Mangonar Lumbantoruan
BAGIAN III:
SYARAT DASAR MENJADI PETERNAK
Sampai sejauh ini kita sudah membahas tentang peranan ternak bagi manusia, juga makna kata ternak, peternakan dan peternak. Pertanyaan sekarang sudahkah ada di antara warga kita yang benar-benar layak disebut sebagai peternak? Apakah mereka berhasil? Menurut hemat kami belum atau setidaknya masih jarang. Kenapa demikian? Sekali lagi, menurut hemat kami, karena mereka belum memiliki syarat-syarat dasar untuk menjadi peternak yang berhasil.
Pengalaman menunjukkan bahwa yang berhasil umumnya adalah mereka-mereka yang profesional. Seseorang dikatakan profesional jika mampu dan mau melakukan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Orang yang bekerja setengah-setengah (bahasa Batak : alang-alang) tidak disebut profesional dan mereka jarang sukses. Mungkin kita pernah mendengar ungkapan berikut : Ai so ni antusan bayo i, alang ama-ama alang doli-doli. Ungkapan ini ditujukan kepada seseorang yang sudah menikah namun tingkah lakunya masih seperti lajang; sebagai ayah tidak pantas dipanuti oleh anak-anaknya, sebagai suami tidak dapat diandalkan oleh istrinya. Pastilah dia itu seorang ama yang tidak profesional.
Syarat keprofesionalan yang dituntut dari seseorang agar berhasil sangat tergantung kepada jenis pekerjaan atau profesinya. Namun kata profesional itu sendiri bisa disandingkan dengan semua jenis profesi. Sebagai contoh guru yang profesional, petani yang profesional, sintua yang profesional, pendeta yang profesional, ayah yang profesional, ibu yang profesional, suami yang profesional, istri yang profesional, dosen yang profesional, pacar yang profesional…… dst … dst …
Seperti disebut tadi, tentu saja masing-masing profesi ini memiliki ciri-ciri dan menuntut persyaratan profesionalisme yang berbeda-beda. Pada kesempatan ini yang akan kita bahas adalah syarat-syarat menjadi peternak profesional. Apa saja syarat yang harus dipenuhi agar seseorang layak menjadi peternak profesional? Untuk itu setidaknya ada tiga syarat dasar yaitu:
(1) kompetensi yang tinggi;
(2) komitmen yang tinggi; dan
(3) budaya yang tepat.
3.1 Kompetensi Beternak
Kompetensi adalah kapasitas yang dilandasi oleh pengetahuan dan kecakapan yang tinggi untuk melakukan sesuatu secara tepat sesuai dengan yang seharusnya. Seseorang disebut kompeten kalau memiliki pengetahuan dan keterampilan; menguasai teori dan praktek. Seorang pelatih sepakbola disebut kompeten kalau menguasai teori bermain bola dan terampil pula menyepak bola. Seseorang yang hanya terampil menggoreng bola tetapi tidak menguasai prinsip-prinsip permainan sepakbola akan sulit menjadi pemain, apalagi pelatih, yang kompeten. Hal yang sama berlaku untuk semua profesi atau pekerjaan lain. Sudahkah kita menjadi ayah atau ibu yang kompeten?; Suami atau istri yang kompeten?; Pendeta, Pengkhotbah, Gembala Sidang, Pengajar…… dst ……. dst ….. yang kompeten?
Kompetensi apakah yang harus dimiliki untuk menjadi peternak yang kompeten? Menurut pengalaman, paling sedikit ada tiga jenis yakni :
(1) kompetensi teknis (technical competence),
(2) kompetensi pemasaran (marketing competence), dan
(3) kompetensi finansial (financial competence).
3.1.1 Kompetensi Teknis
Seperti kami sebut tadi, ternak bisa hidup sendiri kalaupun dibiarkan berkeliaran. Malah kalau dilepas mungkin mereka akan lebih senang. (Cara seperti ini dulu banyak dilakukan di Pulau Nias untuk babi dan di Samosir untuk kerbau). Malasahnya masih adakah areal yang tepat untuk cara seperti itu? Atau, masih cocokkah kondisi kita yang sekarang beternak dengan cara demikian? Bayangkan, seandainya untuk menjamu sang mertua, yang tiba-tiba datang berkunjung dengan alasan mau nengok cucu, kita harus buru-buru menangkap ayam atau lomok-lomok yang bebas berkeliaran. Harus dikejar ke sana ke mari. Mungkin-mungkin sang mertua sudah keburu pulang saat kita berhasil menangkap ternak tadi. Bah. Alangkah kecewanya. Mama Ucok pasti merajuk karena kesal. Artinya, sudah sulit, bila tidak mustahil, untuk beternak dengan cara seperti itu untuk jaman sekarang. Jadi, kalau ingin beternak maka seseorang harus benar-benar memeliharanya. Memelihara berarti menyediakan semua kebutuhan ternak. Itu makna dari kalimat Beternak berdasarkan kompetensi teknis.
Yang dimaksud dengan kompetensi teknis adalah penguasaan atau kapasitas untuk memproduksi atau melakukan sesuatu sesuai dengan tatacara atau prosedur yang dilandasi oleh teori/prinsip dan teknik yang tepat. Kompetensi teknis berarti menyangkut bagaimana sesuatu itu dilakukan atau dijalankan agar menghasilkan output yang diharapkan. Sebelum menanam padi, misalnya, seorang petani seyogyanyalah menguasai prinsip-prinsip bercocok tanam padi. Syarat-syarat apa yang diperlukan agar padi tumbuh dan berproduksi dengan baik. Selain itu dia harus terampil menyediakan atau memenuhi syarat-syarat tadi, misalnya : terampil mengolah tanah, terampil mengatur jarak tanam, terampil mengatur irigasi, terampil menentukan jenis, dosis dan saat pemupukan yang tepat dst .. dst … Kalau semuanya itu dikuasai barulah petani tadi layak disebut kompeten bercocok tanam padi. Hal yang sama berlaku untuk peternak dan profesi-profesi lain. Aspek-aspek teknis yang harus dikuasai oleh seseorang agar berpotensi menjadi peternak handal akan kita bahas lebih mendeteil pada Bagian IV.
3.1.2 Kompetensi Pemasaran
Bila prinsip-prinsip teknis produksi diterapkan secara konsekuen dan konsisten maka dapatlah seseorang berharap bahwa usaha ternaknya akan berhasil. Persoalan berikutnya adalah memikirkan pemasaran bagi ternak yang sudah layak jual. Untuk itu peternak harus kompeten di bidang pemasaran.
Yang dimaksud dengan kompetensi pemasaran adalah kemampuan untuk menemukan secara tepat ke manakah ternak atau produk ternak akan laku dijual dengan harga yang menguntungkan, bagaimana cara membawanya ke sana dan bagaimana pula cara menjualnya kepada para calon pembeli di pasar yang dituju. Hanya apabila memiliki kompetensi seperti inilah peternak baru mampu menjual suatu produk secara menguntungkan. Kalau tidak, mereka akan selalu menjadi korban atau bulan-bulanan pedagang. Adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan bahwa kondisi seperti itulah yang dialami oleh sebagian besar petani kita. Mereka bersusah payah menanam tetapi pedaganglah yang paling banyak menikmati untungnya.
Tanaman atau ternak apa yang banyak diusahai oleh warga di daerah Anda? Menurut Anda, sudahkah mereka menguasai informasi ke mana dan kepada siapa nanti hasil panennya akan dijual ?
Agar tidak menjadi bulan-bulanan tengkulak maka kita harus memberdayakan petani agar kompeten di bidang pemasaran. Kita perlu memberi perhatian yang serius untuk mempelajari seluk beluk pemasaran ini. Kita harus berupaya memperpendek mata rantainya. Kalau dilakukan sendiri-sendiri mungkin akan sia-sia. Tapi, kalau bersama-sama maka peluang untuk berhasil akan semakin besar. Kita perlu mengajak dan mendorong warga gereja atau desa kita untuk berkelompok! Praktisnya, sudah waktunya kita memilih dua atau tiga orang dari kalangan warga untuk menjadi duta pemasaran bagi hasil-hasil pertanian dan peternakan di desanya. Bila telah terpilih, kita berdayakan mereka; ajak warga lainnya untuk mempercayai mereka. Masa di antara sekian puluh atau ratus orang warga jemat atau desa kita tidak ada dua tiga orang yang berbakat menjadi pedagang yang dapat diserahi kepercayaan?.
Memang harus diakui ada suatu persepsi yang salah di benak kita, khususnya orang Batak, tentang urusan dagang-berdagang ini. Sejak kecil kita sudah dihantui oleh stigma bahwa berdagang identik dengan menipu atau berbohong. “Na dila partiga-tiga“, begitu yang sering kita dengar. Tetapi, apa memang harus demikian? Haruskah setiap pedagang berbohong dulu baru beruntung? Menurut hemat kami tidak. Berdagang dengan dilandasi oleh kejujuranpun tetap bisa beruntung. Malah, sistim perdagangan seperti inilah yang sekarang sedangkan giat-giatnya dikembangkan oleh gereja di negara-negara maju seperti di Jepang, Korea dan Jerman. Mereka menyebutnya fair trade yaitu perdagangan yang berkeadilan. Tidakkah konsep ini bisa kita terapkan? Mari kita mulai mencoba!
3.1.3 Kompetensi Finansial
Setelah sistim produksi dan sistim pemasaran dipersiapkan, maka persoalan berikut adalah uangnya. Berapa yang diperlukan dan dari mana diperoleh? Bagaimana mengelolanya agar modal tidak habis sebelum panen terjual? Itulah persoalannya.
Bahwa uang sangat penting untuk berusaha itu tergambar dari ungkapan para pebisnis berikut ini : Uang adalah bibit uang!. Halak hita mandok : “HMH” : Hepeng Mangalap Hepeng!
Agar dapat menerapkan prinsip di atas secara benar maka seseorang harus memiliki kompetensi yang tinggi di bidang keuangan. Bagaimana dengan petani di tempat Anda? Sudahkah mereka kompeten mengelola keuangan usaha taninya? Bagaimana pula dengan keuangan rumah tangga kita, kelompok kita, gereja kita ? dst .. dst ..
Yang dimaksud dengan kompetensi finansial adalah perihal bagaimana merencanakan atau menghitung jumlah biaya yang diperlukan untuk memproduksi suatu produk dan bagaimana cara untuk menyediakan dan mengelolanya. Jadi, misalnya, jika seorang petani berencana memelihara 3 ekor induk babi maka dia harus mengetahui persis sarana produksi apa saja dan berapa jumlah masing-masing bahan yang diperlukan untuk memelihara ketiga ekor induk babi tersebut. Selanjutnya dia harus tau berapa uang yang diperlukan untuk itu dan dari mana diperoleh. Kalau tidak demikian maka usaha ternak tadi akan amburadul alias angin-anginan.
Mungkin di antara kita ada yang berkata : Lho, untuk apa repot-repot memikirkan modal. Ubi bisa ditanam sendiri oleh petani. Dedak? Di desa kan banyak padi! Rumput? Bisa diarit sendiri! Mungkin demikian, tapi persoalannya adalah dengan cara seperti itu terjaminkah kecupupan dan kontinuitas bahan-bahan tersebut sepanjang tahun? Ternak harus makan dua atau tiga kali sehari sepanjang tahun. Jadi kalau penanaman ubi tadi tidak dikelola sedemikian rupa maka bisa saja akan ada saat-saat kosong atau panceklik. Dan kalau itu terjadi, petani tidak mungkin berkata begini kepada ternaknya : Sabar jo hamu ate, minggu na ro ma hamu mangan, ndang matoras do pe gadong. Atau, saat dedak habis lalu mereka bilang begini : Toe ma ate, nanget-nanget ma allangi hamu nang pe so tabo ala na so adong dodak i. Boha baenon, balik marsogot pe hami manjomur! Bah, mana mau mereka begitu.
Yang ingin kami katakan adalah kalau berani beternak maka seseorang harus merencanakan secara seksama pengadaan semua bahan-bahan yang diperlukan untuk itu. Sepanjang memungkinkan, optimalkanlah penggunaan bahan-bahan yang bisa diproduksi sendiri. Kalau ada bahan yang harus dibeli, harus direncanakan sumber biayanya secara rutin. Dalam konteks ini, itulah untungnya kalau ada CU (credit union) atau Usaha Simpan Pinjam. Sudahkah ada CU di desa Anda ?
3.2 Komitmen untuk Menjadi Peternak
Dari seorang sahabat kami pernah mendapat nasehat sebagai berikut : “Pangkulingi suan-suanan mi, ai sian i do dalanmu dapot ngolu“. Nasehat di atas kami maknai sebagai berikut. Hidup berasal dari Tuhan. Hidup itu Dia berikan kepada kita melalui udara, air dan berbagai bahan makanan yang Dia ciptakan di bumi ini. Namun untuk itu kita harus berusaha. Kita harus mengenal betul manakah di antara ciptaan-ciptaanNya itu yang dapat mendukung hidup kita. Dari pengalaman yang diwariskan oleh generasi-generasi sebelumnya kita mengetahui bahwa ciptaan Tuhan yang berupa tumbuh-tumbuhan itu dapat kita jadikan sebagai sumber bahan makanan agar tubuh kita tetap hidup. Selanjutnya, pengalaman mereka juga telah membuktikan bahwa bahan makanan dari tumbuhan akan lebih mudah diperoleh dan lebih terjamin ketersediaannya bila dipelihara dan/atau dibudidayakan. Seterusnya, upaya budidaya tanaman akan lebih berhasil bila kita mengenal betul tingkah laku mereka. Untuk itu, kita perlu berbicara dengan mereka.
Berbicara dengan tanaman dapat kita lakukan melalui pengamatan atas keadaan mereka. Dari sana kita akan mengetahui bagaimana kondisi mereka, apa yang mereka butuhkan dan itulah yang kita upayakan. Dengan melakukan hal demikian kita yakin mereka akan membalas jasa kita dengan produksi yang melimpah.
Hal yang sama berlaku pada ternak. Untuk sukses beternak berikanlah kepada mereka apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Untuk itu pangkulingi-lah mereka. Bisakah kita berbicara dengan ternak? Bisa. Caranya? Pelajarilah bahasa mereka. Apakah ternak memiliki bahasa? Ya, yaitu tingkah laku mereka. Ternak berkomunikasi dengan sesamanya melalui tingkah laku tertentu. Misalnya, bila seekor anak babi lapar, haus atau kedinginan maka dia akan memberitahu induknya melalui tingkah laku tertentu. Si induk sudah paham betul akan bahasa tersebut dan dia akan memberi respon yang tepat.
Mampu mamangkulingi tanaman atau ternak hanya bisa dicapai bila seseorang memberi waktu dan perhatian yang cukup untuk itu. Dia juga harus cermat serta sabar dan tekun melakukannya berulang-ulang. Untuk itu dia harus memiliki komitmen yang tinggi.
Yang dimaksud dengan komitmen adalah janji, tekad dan kemauan untuk melakukan sesuatu secara konsekuen dan konsisten hingga berhasil. Jadi berkomitmen itu adalah sikap pantang mundur atau kendur walau ada hambatan atau meminta banyak pengorbanan. Kemauan adalah kunci utama keberhasilan. Sebanyak apapun sumberdaya yang tersedia akan tetapi bila kemauan atau motivasi rendah maka semua sumberdaya tadi akan menjadi sia-sia. Sebaliknya dengan kemauan (baca: komitmen) yang tinggi maka sumberdaya yang terbatas dapat memberi hasil optimal.
Pemahaman kita tentang makna kata komitmen mungkin bisa semakin mendalam dengan memahami makna yang tersirat di balik kisah nyata berikut. Seorang guru saya, sekaligus panutan, yang berprofesi sebagai dokter hewan, pernah menceritakan pengalamannya sendiri. Suatu saat beliau harus memilih antara tanggungjawab sebagai seorang suami atau tugas sebagai dokter hewan. Ketika itu istri beliau akan melahirkan. Secara kebetulan, pada saat yang bersamaan, seekor induk sapi yang menjadi tanggungjawabnya juga mau melahirkan. Beliau sempat ragu-ragu memilih mana yang harus didahulukan. Setelah mempertimbangkan secara matang, akhirnya beliau mengantar istrinya lebih dulu ke rumah sakit lalu secepatnya kembali ke rumah untuk menolong induk sapi tadi. Setelah semua beres di rumah, beliau balik lagi ke rumah sakit. Syukurlah sang anak telah lahir dengan selamat. Tetapi istri beliau marah-marah, katanya : “Suami macam apa kau. Sapi lebih dipentingkan dari istri“. Lalu beliau menjawab dengan sabar : “Lho! Bukankah di sini sudah ada dokter? Sedang sapi itu tadi sayalah dokternya. Kalau bukan saya siapa yang akan menolongnya?”. Bagi sebagian orang mungkin beliau itu adalah suami yang tegaan. Tapi dari sudut profesionalisme, beliau adalah orang yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan tanggungjawabnya.
Komitmen seperti itulah yang sangat diperlukan untuk menjadi peternak profesional. Sekali berani memulai, seseorang harus siap mengerahkan segala daya upaya untuk menjalankan usaha yang dipilihnya. Dia tidak boleh setengah-setengah (Bahasa batak: alang-alang) melainkan harus tekun, ulet dan tidak mendewakan gengsi namun tetap memiliki integritas diri yang tinggi.
Persyaratan seperti di atas yang sering menjadi masalah bagi Halak Hita, apalagi kaum ama Bona Pasogit. Ama-ama halak hita merasa turun gengsinya kalau harus mamahan babi (memberi makan, memandikan atau membersihkan kandangnya). Konon lagi bila harus ikut mangkali gadong, mansalong, manostos atau manuan andor. Bah, bisa kehilangan muka beliau-beliau itu kalau terlihat oleh konco-konconya. Ya sudah, akhirnya semua pekerjaan tadi jatuh ke tangan ibu-ibu. Atau paling-paling anak-anaklah yang jadi korban. Tapi kalau sudah menyangkut uang hasil penjualan ternak, beliau-beliau itu pasti sering bilang begini : “Bah, ai naso au be komandan di jabu on?. Itulah susahnya ama-ama halak hita. Enak-nya mau, tapi capek-nya biarlah orang lain saja.
Bagaimana dengan kaum bapak di desa Anda, apakah masih demikian? Kalau mau sukses beternak sikap seperti itu harus dihilangkan. Agar sukses menggerakkan mereka untuk beternak maka mereka harus dimotivasi agar memiliki komitmen yang tinggi.
3.3 Budaya yang Tepat untuk Beternak
Budaya mencakup hal-hal yang sangat luas. Tetapi yang kami maksudkan di sini adalah sistim nilai yang kita anut. Artinya, apa yang bernilai bagi kita dalam hidup ini. Sistim nilai yang dianut seseorang akan mempengaruhi setiap keputusan yang diambilnya. Sebagai contoh, mana yang lebih berharga bagi seorang ayah masa depan anak-anaknya atau gengsinya? Kalau harus memilih, mana yang dia utamakan antara membeli sagalas kopi atau membeli obat cacing untuk ternak? Atau, sekali lagi kalau terpaksa, siapkah seorang petani di hitaan mengurangi waktu ke lapo agar sempat mengurus ternak? Siapkah mereka bangun tengah malam untuk memeriksa induk babi yang baru melahirkan agar tidak menindih anak-anaknya? Anak-anak ternak yang baru lahir sangat rentan terhadap udara dingin. Jadi perlu diberi penghangat. Syukur kalau sudah ada listrik. Kalau tidak, terpaksa memasang api, mirip seperti memasang saganan ketika ibu-ibu di Bona Pasogit baru melahirkan (Bahasa batak: mainundun). Bersediakah mereka menyiapkan saganan bagi anak ternak yang membutuhkan kehangatan itu? Harus dihidupkan pula sepanjang malam. Bersediakah mereka mengangkat air untuk memandikan ternak agar ternak tersebut tidak darangon?
Mudah-mudahan warga desa Anda tidak ada lagi yang akan berkata begini : “Bah, anakku aja tidak pernah kumandikan konon pula ternak!” Atau : “Ba haru inanta tundunan, inang simatuangku do pajaga-jaga saganan na. Ba lamu saganan ni pinahan ma? Tu sada i ma hamu Amang. Di hamu ma i peternakan muna i!”.
Mungkin di antara kita banyak yang menganggap pernyataan-pernyataan di atas berlebihan. Tapi, begitulah seharusnya. Sekali berani mencoba MENJADI PETERNAK maka banyak yang harus diubah dan banyak pula yang harus dikorbankan. Pertanyaannya adalah akankah warga desa kita bersedia untuk itu? Bersambung ke Bagian IV
DIarsipkan di bawah: Opini | Ditandai: budaya beternak, komitmen, kompetensi, menjadi peternak, profesional, syarat dasar | 2 Komentar »
Posted on 30 September 2009 by Mangonar Lumbantoruan
BAGIAN II:
MANFAAT, PENGERTIAN DAN POSISI USAHA TERNAK
2.1 Manfaat Ternak Sebagai Penghasil Pangan Hewani
Ternak memiliki manfaat yang sangat penting dan beragam bagi manusia. Salah satu yang paling penting di antaranya adalah menghasilkan pangan hewani (daging, susu dan telur). Dibanding bahan pangan nabati seperti beras, jagung, ubi dan sayur-sayuran maka pangan hewani memiliki berbagai keunggulan. Tiga diantaranya yang terpenting adalah sebagai berikut ini.
Pertama, pangan hewani mengandung lebih banyak dan lebih lengkap zat-zat gizi esensil khususnya PROTEIN, MINERAL dan VITAMIN. Protein adalah zat gizi utama yang sangat penting bagi tubuh manusia. Hanya kalau memperoleh protein yang cukup maka tubuh manusia bisa bertumbuh dan berkembang. Protein diperlukan antara lain untuk pembentukan sel-sel tubuh, termasuk pembentukan sel-sel otak. Bila seseorang kekurangan protein, terutama saat bayi dan fase pertumbuhan maka sulitlah bagi dia mencapai pertumbuhan yang optimal. Lebih daripada itu, bila kekurangan protein berlangsung sejak masa kandungan maka pertumbuhan dan perkembangan otaknyapun ikut terhambat. Dampaknya adalah kecerdasannya akan rendah sehingga kemampuan belajarnyapun terbatas. Bersamaan dengan itu, sistim kekebalan tubuhnya akan lemah sehingga mudah terserang penyakit.
Jadi, kalau di antara kita – mudah-mudahan tidak - ada yang mempunyai anak kurang cerdas dan/atau gampang sakit maka yang salah bukan si anak tersebut melainkan kita orangtuanya. Kitalah mungkin yang tidak mampu (atau mungkin tidak mau) memberi mereka gizi yang cukup. Mungkin saat mengandung, ibunya tidak memperoleh gizi yang cukup sehingga tidak mampu menyediakan semua kebutuhan gizi si janin. Mungkin pula sewaktu masa bayi si anak tidak memperoleh ASI yang cukup karena ibunya tidak mampu memproduksi ASI yang banyak. Kekurangan gizi akan membatasi produksi ASI. Oleh sebab itu, kalau seorang ibu yang sedang menyusui makan hanya sedikit, atau kalaupun banyak tapi kurang bergizi, maka produksi ASI-nya akan sedikit. Jadi, dari penjelasan tadi dapatlah kita terima kesimpulan hasil berbagai penelitian bahwa tingkat kecerdasan seorang anak ditentukan sebagian besar oleh kecerdasan dan kesehatan ibunya. (Mudah-mudahan para ayah tidak tersinggung, dan mudah-mudahan para ibu semakin menyadari apa dan siapa dia bagi anak-anaknya, setelah membaca kesimpulan ini).
Kembali ke topik protein tadi, tubuh manusia tidak mungkin memperoleh protein yang cukup kalau hanya makan nasi, ubi, jagung, sayur dan bahan makanan lain yang berasal dari tumbuhan. Hanya kalau di dalam menu sehari-hari kita terdapat pangan hewani, baik asal ternak maupun asal ikan, tubuh kita memiliki kesempatan memperoleh cukup protein, sekaligus zat gizi lain yang juga esensil seperti mineral dan vitamin. Dengan demikian maka kita dapat menerima kesimpulan berikut bahwa produk ternak amat penting bagi terciptanya manusia yang bertubuh sehat dan berotak cerdas.
Negara-negara maju terbangun dari masyarakat yang sehat dan cerdas. Masyarakat seperti ini hanya bisa tercapai bila konsumsi gizinya cukup. Dan itu akan tercapai bila produksi ternak melimpah (Bahasa Batak : Sinur pinahan). Karena alasan ini kembali kita dapat menerima kesimpulan bahwa beternak adalah pekerjaan mulia karena bertujuan menghasilkan bahan yang sangat penting untuk pembentukan bangsa dan karakter suatu negara. Dalam bahasa asing disebut : Animal production is essential for nation and character building. Oleh sebab itu wajar pula bila kita memberi salut kepada para peternak.
Satu lagi pesan yang amat dalam maknanya dan perlu kita renungkan dikaitkan dengan bahasan tadi adalah tona ni Ompui DR. I. L. Nommensen : DANG TARPAJONGJONG HAMU HARAJAAON NI DEBATA DI TONGA-TONGA NI HAOTOON.
Keunggulan kedua adalah nilai biologis yang tinggi. Yang dimaksud dengan nilai biologis adalah jumlah zat gizi yang dapat dicerna dan diserap oleh saluran pencernaan dari yang ada di dalam suatu bahan makanan. Perlu diketahui bahwa tidak semua zat gizi yang kita konsumsi itu dapat diambil oleh saluran pencernaan. Selalu ada yang tersisa dan akhirnya terbuang. Semakin tinggi nilai biologis suatu bahan makanan maka semakin banyak zat gizi yang dapat diambil darinya. Kenapa pangan hewani lebih bagus? Pangan hewani umumnya mengandung lebih sedikit serat kasar dibanding pangan nabati. Kandungan serat kasar inilah yang menjadi biang keladinya. Serat kasar akan menghambat aksi saluran pencernaan untuk memproses bahan makanan. Semakin tinggi kandungan serat kasar semakin sulit bahan makanan dicerna. Namun perlu diingat bahwa serat kasar itu tidak selamanya merugikan. Dalam jumlah tertentu serat harus ada dalam menu kita sehari-hari agar proses pencernaan (terutama untuk pengeluaran sisa makanan) berjalan lancar.
Keunggulan ketiga adalah aroma dan citarasa yang enak sehingga merangsang selera makan (Bahasa Batak : pa ro ijur), bahkan ketika kita sedang kurang sehat. Sewaktu masih kanak-kanak kami jarang makan daging, paling saat ada tamu, pesta atau ada ternak yang mati. Tapi kalau sudah sakit maka bolak-baliklah orangtua kami menawarkan : “Boha! Seatonta manuk i asa lakku indahan i allangon mu?”. (Mudah-mudahan tidak ada lagi di antara kita yang baru menawari anak-anaknya makanan lezat dan bergizi setelah mereka sakit).
Kemampuan pangan hewani membangkitkan selera makan terletak pada kandungan zat flavor-nya yang tinggi dan citarasanya yang unik. Zat flavor adalah senyawa-senyawa penyebab aroma. Zat-zat inilah yang ditangkap oleh indra penciuman sehingga kita dapat mengetahui apakah suatu benda itu beraroma harum, berbau busuk atau tengik. Sedangkan citarasa adalah kesan yang ditangkap oleh indra pengecap (lidah) dari suatu benda. Lidah manusia mengenal 4 rasa utama yaitu manis, pahit, masam dan asin. Kombinasi aroma dan citarasalah yang membangkitkan, atau sebaliknya menghilangkan, selera makan kita. Zat-zat pemberi aroma ini akan menguap bila dipanaskan. Itu sebabnya kita lebih berselera melihat makanan hangat dibanding yang dingin. Halak Hita membahasakannya dengan ungkapan : “Taallangkon bo, binsan las!”.
Mudah-mudahan dengan penjelasan di atas semakin kita sadari dan hayati betapa berharga sumbangan ternak itu bagi manusia. Dan, berbahagialah mereka-mereka yang mau bersusah payah beternak karena telah berjasa menyediakan sesuatu yang berharga bagi bangsa ini. Jadi ala ni tadok ma tu angka dongan na totop radot marpinahan : “Unang pintor mandele hamu molo apala loja pe na marpahan-pahanan i”.
2.2 Pengertian Ternak
Bagi petani pedesaan kita, beternak bukan hal asing karena sudah dilakoni secara turun temurun. Namun, apakah mereka benar-benar peternak? Sebagian besar belum! Hal ini dapat dilihat baik dari tatacara beternak maupun dari penampilan ternak-ternak mereka; umumnya masih jauh dari yang diharapkan. Kami berpendapat bahwa sebenarnya hanya sedikit dari peternak kita yang layak disebut sebagai PETERNAK. Bahwa banyak di antara mereka tetap merasa untung walau kondisinya seperti itu, itu tidak perlu dipungkiri. Namun keuntungan tersebut sebenarnya belum optimal. Kalau begitu, siapakah yang pantas disebut sebagai PETERNAK? Kriteria apa yang harus dimiliki agar seseorang layak menyandang gelar tersebut?
Ternak adalah hewan namun tidak semua hewan disebut ternak. Hewan adalah semua binatang, yang jinak atau liar (Bahasa Batak : nasa na manggulmit dohot na manjirir di sisik ni tano, nang na di bagasan aek rodi na habang martonga-tonga langit). Hewan dibedakan antara yang liar dan yang dipiara. Hewan liar tidak mengalami campur tangan manusia. Sedangkan hewan piara menerima, bahkan sangat tergantung kepada, campur tangan manusia. Hewan piara dapat dibedakan antara hewan ternak dan hewan kesayangan. Hewan ternak - disingkat ternak (Bahasa Inggris : livestock = cadangan hidup) - hidup dan kehidupannya dikendalikan oleh manusia untuk tujuan-tujuan produktif dengan memperhitungkan motif ekonomi. Sedangkan hewan kesayangan (pets animals) adalah hewan yang dipelihara terutama untuk tujuan-tujuan kesenangan, kepuasan pikiran atau hobby tanpa terlalu memperhitungkan aspek untung ruginya; yang penting senang.
Mengapa hewan liar diubah menjadi ternak? Sebenarnya walau tetap liar, hewan tetap dapat berguna untuk memenuhi berbagai keperluan manusia. Namun dengan meningkatnya populasi dan berkembangnya kebutuhan manusia maka mengandalkan hewan buruan tidak dapat lagi dipertahankan. Oleh sebab itu, secara sadar atau tidak, manusia perlu memberi campur tangan untuk mengatur kehidupan hewan agar dapat berproduksi lebih baik dan – yang juga penting - tersedia saat diperlukan.
Aspek apakah yang diatur atau dikendalikan oleh mansia dalam kehidupan ternak ? Semua aspek!. Namun yang paling pokok adalah :
-
Makanan. Penyediaan dan pemberian makanan diatur oleh manusia.
-
Perkembangbiakan. Perkembangbiakan ternak diatur oleh manusia agar keturunannya lebih baik. Sifat-sifat jelek induk dihilangkan atau setidaknya dikurangi dengan melakukan seleksi sehingga keturunannya lebih unggul dan lebih berdayaguna bagi kebutuhan manusia.
-
Tatalaksana. Ternak tidak dibiarkan bebas melainkan disediakan tempat agar manusia mudah menjangkaunya saat melakukan pemeliharaan, pengawasan penyakit dll.
Berkembang dari makna kata ternak tadi maka kata peternakan dapat kita artikan sebagai semua daya upaya atau campur tangan manusia terhadap ternak dan lingkungannya dengan tujuan meningkatkan dayaguna ternak tersebut bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Selanjutnya, kata peternak dengan mudah pula bisa kita pahami sebagai orang yang menjalankan kegiatan peternakan. Peternak adalah orang yang betul-betul memberi campur tangan bagi kehidupan ternak-ternaknya, jadi bukan sekedar memiliki tanpa mempersoalkan apakah kebutuhan hidup ternak tersebut terpenuhi atau tidak.
2.3 Posisi Ternak pada Usaha Tani Pedesaan (Baca: Bona Pasogit)
Seperti telah disebut di atas, memelihara ternak adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan petani pedesaan. Petani kita umumnya mempraktekkan pertanian terpadu di mana tanaman dan ternak, kadang-kadang juga ikan, dibudidayakan secara bersama-sama oleh seorang keluarga petani. Namun dalam kenyataannya usaha ternak yang dikelola oleh kebanyakan petani kita masih jauh tertinggal atau tradisional. Kenapa demikian ? Tentu saja banyak faktor yang dapat menjadi penyebabnya. Namun satu hal yang diyakini menjadi kunci penyebabnya terletak pada diri petani itu sendiri yaitu sikap atau cara pandangnya terhadap usaha ternak tersebut, khususnya menyangkut posisi usaha ternak dalam usaha taninya.
Hampir seluruhnya petani kita menempatkan atau memposisikan usaha ternak sebagai usaha sampingan. Dengan posisi seperti itu maka sumberdaya (lahan, modal, waktu, dan pikiran) yang dicurahkan ke usaha ternak juga statusnyat sampingan yaitu apa yang tersisa (Bhs Batak : lobi-lobi manang eba-eba) dari usaha tani tanpa mempersoalkan apakah sisa-sisa tadi dapat mencukupi kebutuhan ternak agar mampu berproduksi secara optimal. Dengan demikian tidak mengherankan mengapa produktivitas ternak-ternak yang dimiliki petani kita rendah. Bagaimana mungkin usaha yang tidak dimodali mampu memberi keuntungan besar! Bagaimana mungkin usaha yang diurus asal-asalan mencapai efisiensi optimal!
Selain diposisikan sebagai usaha sampingan, usaha ternak oleh mayoritas petani pedesaan kita juga dipandang sebagai tabungan. Dengan peran seperti itu maka ternak baru dijual ketika petani memerlukan uang tunai yang mendesak tanpa mempersoalkan apakah ternaknya sudah terlalu tua atau malah masih terlalu kecil. Pada hal, semakin tua usia ternak maka efisiensi produksinya makin menurun. Sebaliknya, bila dijual terlalu muda potensi produksinya belum tercapai.
Bila menginginkan sumbangan yang lebih besar dari usaha ternak maka posisi dan perannya di dalam sistim usaha tani harus ditingkatkan. Dalam konsep Pembangunan Peternakan dikenal 4 (empat) skala usaha ternak ditinjau dari posisi dan peranannya dalam sistim usaha tani, yaitu :
-
Usaha Sampingan bila sumbangannya terhadap total penghasilan keluarga petani < 30%.
-
Cabang Usaha bila sumbangannya terhadap total penghasilan keluarga petani 30% – 70%.
-
Usaha Pokok bila sumbangannya terhadap penghasilan total keluarga petani > 70%.
-
Usaha Industri bila sumbangannya terhadap penghasilan total keluarga petani 100%.
Menurut pengalaman, agar usaha ternak bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan yang handal maka skala usaha yang harus dipilih setidaknya cabang usaha. Salah satu konsekuensinya adalah sebanyak 30 – 70% semua sumberdaya (lahan, waktu, modal dll) yang dimiliki petani harus dicurahkan ke usaha ternak. Pertanyaan : siapkah petani Bona Pasogit memenuhi syarat tersebut? Bersambung ke Bagian III
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »
Posted on 30 September 2009 by Mangonar Lumbantoruan
BAGIAN I. PENDAHULUAN
Hingga kini sebagian besar petani Bona Pasogit masih mengharapkan agar makna falsafah Gabe Na Ni Ula Sinur Na Pinahan terwujud dalam usaha taninya. Namun kondisi yang ada sudah tidak sepenuhnya lagi mendukung terciptanya kondisi ideal tersebut. Memang dahulu ketika daya dukung lingkungan masih tinggi – lahan masih subur, iklim bersahabat, air dan tenaga kerja melimpah – maka produktivitas usaha tanipun tinggi sehingga jumlah panen melebihi kebutuhan manusia. Oleh karenanya sebagian dari hasil panen (terutama ubi-ubian) dapat disisihkan untuk ternak. Selain itu, perkembangan usaha ternak didukung pula oleh melimpahnya hasil ikutan dan limbah tanaman serta masih luasnya lahan kosong, termasuk areal penggembalaan. Namun saat ini, kondisi seperti itu sudah tinggal kenangan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan pangan, papan dan sandangpun meningkat. Untuk memenuhi itu semua maka semua sumberdaya – terutama lahan, hutan, hewan dan air – dieksploitasi secara ekstraktif. Produksi pertanian dipacu melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.
Karena dijalankan secara kurang arif maka program intensifikasi telah menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain menurunnya kualitas lahan pertanian sehingga produktivitasnya semakin merosot. Jangankan untuk kebutuhan ternak, bahkan untuk kebutuhan petani sekalipun sering hasil panen tidak lagi cukup. Pada saat yang sama, dampak negatif program ekstensifikasi juga tidak kalah hebatnya antara lain bencana banjir dan longsor, turunnya kualitas dan ketersediaan air dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Pada kondisi seperti di atas maka peluang untuk mengembangkan usaha ternak menjadi terbatas. Dengan kata lain makna falsafah tadi sudah tidak mungkin lagi diterapkan. Oleh sebab itu, menurut hemat kami, falsafah ini perlu direformasi menjadi “Tapasinur pinahan asa gabe na taula”. Implikasinya, untuk kondisi sekarang pengembangan usaha ternak perlu ditempatkan sebagai starting point dalam upaya peningkatan produktivitas dan sekaligus peningkatan penghasilan petani di Bona Pasogit.
Ada beberapa alasan mengapa strategi pembangunan yang menempatkan pengembangan usaha ternak sebagai starting pointnya dinilai efektif untuk menaikkan tingkat penghasilan petani di Bona Pasogit. Tiga di antaranya yang menurut hemat kami paling penting adalah sebagai berikut.
Pertama, Halak Hita – di manapun berada – adalah konsumen yang sangat gemar dengan produk ternak khususnya daging, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk adat atau upacara budaya lainnya. Fakta menunjukkan, walau ternak babi hampir punah dari Bona Pasogit akibat wabah Hog Cholera pada tahun 1994 hingga 1996 yang lalu, namun sangsang atau tanggo-tanggo tetap tersedia di rumah-rumah makan atau di pakter tuak setempat; demikian juga kehadirannya di pesta-pesta tidak berkurang intensitasnya. Memang, untuk keperluan adat Halak Hita rela mengorbankan uang yang sudah susah payah dikumpulkan selama bertahun-tahun; dan bagian terbesar dari biaya pesta ini – setidaknya di Bona Pasogit – adalah untuk membeli ternak. Dengan demikian, bila usaha ternak berkembang di Bona Pasogit maka penghasilan penduduk dari luar sub-sektor peternakan dapat dihemat atau setidaknya dapat dicegah agar tidak terkuras ke daerah lain untuk membeli ternak.
Kedua, saat ini tingkat kesuburan lahan di Bona Pasogit sudah sedemikian parah sehingga hampir tidak mungkin lagi memperoleh panen yang memadai tanpa pemupukan intensif. Petani umumnya lebih memilih cara praktis yaitu menggunakan pupuk sintetik. Selain menguras modal, cara ini ternyata juga meninggalkan berbagai ekses negatif terhadap lingkungan terutama kualitas lahan dan air. Dampak seperti ini bukannya tidak disadari oleh petani namun mereka tidak memiliki alternatif. Mau menggunakan pupuk kandang mereka tidak mampu menyediakannya karena tidak punya ternak. Bila dibeli harganya mahal. Oleh sebab itu alternatif paling ekonomis untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengembangkan ternak.
Ketiga, salah satu kendala pengembangan pertanian di Bona Pasogit saat ini adalah kelangkaan tenaga kerja karena jumlah penduduk usia produktif (lepas SLTA) sangat sedikit. Yang sedikit inipun lebih banyak memilih terjun ke sektor non-pertanian. Kelangkaan tenaga kerja ini telah dicoba mengatasinya dengan memasukkan alat-alat bantu mekanis seperti traktor. Namun sebenarnya penggunaan alat-alat ini di Bona Pasogit, menurut hemat kami, lebih didorong oleh sifat latah karena sebenarnya kurang ekonomis dan kurang praktis mengingat pemilikan lahan usaha tani per keluarga yang umumnya sempit dan kebanyakan tofografinya bergelombang bahkan berbukit. Areal dengan kondisi seperti ini itu sebenarnya lebih cocok diolah dengan tenaga ternak. Namun sekali lagi ternak untuk keperluan itulah yang sulit diperoleh.
Ketiga alasan di atas dapat menunjukkan bagaimana mendesaknya pengembangan peternakan di Bona Pasogit. Masalahnya adalah seberapa besarkah kapasitas yang dimiliki penduduk setempat untuk melakukannya? Jawabnya : terbatas – terutama teknologi, modal dan managemen. Ketiga aspek ini menjadi faktor pembatas utama bagi sebagian besar penduduk Bona Pasogit untuk mengintegrasikan usaha ternak berskala ekonomis ke usaha taninya. Dalam hal inilah kami melihat bahwa peranan gereja, antara lain HKBP, sangat strategis yaitu untuk menjembatani penduduk Bona Pasogit – yang memiliki berbagai sumberdaya potensil bagi pengembangan peternakan – dengan para perantau – yang memiliki kemampuan, dan yang lebih penting, kepedulian untuk membantu membangun kampung halamannya – agar di antara kedua belah pihak tercipta kerjasama simbiosis mutualisme; saling menguntungkan.
Patut disayangkan bahwa hingga kini gereja kita umumnya masih kurang pas menempatkan perannya dalam pengembangan ekonomi warga Bona Pasogit. Memang tidak sedikit upaya yang telah dilakukan untuk itu terutama melalui lembaga seperti Pengmas, Pelpem atau Parpem. Namun sayangnya upaya-upaya tersebut lebih bersifat karikatif karena lebih diandalkan kepada dukungan belas kasihan donatur. Ketika donasi berhenti, bisa karena berbagai alasan, maka aktivitaspun menjadi lumpuh.
Kami bukan mau mengajak agar kita alergi terhadap donatur. Yang ingin kami kemukakan adalah kalaupun pihak luar bersedia membantu, kenapa potensi yang ada pada diri kita sendiri tidak kita kembangkan? Pada hal yang modal utama gereja untuk itu hanyalah kesediaan untuk menjadi fasilitator.
DIarsipkan di bawah: Opini | Leave a Comment »
Posted on 26 September 2009 by Mangonar Lumbantoruan
“DIJOU DO AU MULAK”
Mangonar Lumbantoruan*)
1. Pengantar
Kalimat di atas adalah judul sebuah lagu Batak yang menggambarkan kerinduan seorang perantau ke Bona Pasogit. Sampai-sampai, saking rindunya, sang perantau digambarkan dihinggapi oleh bayangan bahwa orang-orang yang dikasihinya tarlungun-lungun di kampung.
Bila ingin memahami suasana seperti yang digambarkan lagu ini, dengarkan saat dinyanyikan Christin Panjaitan atau Joy Tobing. Putar kasetnya ketika malam sudah senyap. Bila benar penikmat lagu Batak dan pecinta Bona Pasogit, kami yakin Anda akan merasakan makna tarlungun-lungun setelah mendengar lagu itu. Seperti itulah Bona Pasogit saat ini. Bukan itu saja tapi juga tarhirim sebagaimana diungkapkan Joy Tobing melalui lagu Didia do Nasida!
Seseorang akan tarlungun-lungun bila yang dikasihi atau diandalkan tidak mau tau dengan keadaan atau tidak memberi perhatian kepadanya. Hati yang tarlungun-lungun itu akan semakin gundah bila disertai perasaan diabaikan, apalagi diingkari. Semuanya itu pada akhirnya akan berbaur menjadi kekecewaan yang mendalam (Baca : tarhirim) bila orang yang dikasihi atau diandalkan tersebut sebenarnya mampu mengobati kegundahan dan kegalauan tadi namun sikap mengabaikan – atau mengingkari - membuat mereka menjadi lupa.
Kepedihan dan kegundahan Bona Pasogit terkait dengan kondisi yang dialami oleh kebanyakan penghuninya yang serba tertinggal, baik dari segi ekonomi, sosial-politik maupun kultural. Bahasan kami pada tulisan ini akan lebih fokus ke sisi ekonomi dari kondisi yang kami maksudkan tadi sedangkan sisi sosial-politik dan kulturalnya kami harapkan menjadi perhatian bagi pembaca yang lebih kompeten untuk mengulasnya.
2. Benarkah Bona Pasogit Tarlungun-lungun dan Tarhirim?
Tanpa harus melihat angka-angka, pembaca pasti setuju bahwa kehidupan sebagian besar penduduk Bona Pasogit jauh tertinggal dalam banyak hal. Benarkah? Kita boleh bangga bahwa di Bona Pasogit tidak dilaporkan adanya penderita busung lapar seperti di banyak daerah lain. Akan tetapi jaminankah itu bahwa mereka – terutama anak-anak balita dan usia sekolah – memperoleh gizi yang cukup? Pembaca, terutama dari kalangan kesehatan, kami harap berkenan mencermati fenomena berikut :
Nga mangan ho….?
Nungnga……!
Aha ikkanmu……?
…. mie! (nama sebuah produk mie instan)
Dari sudut nutrisi fenomena seperti ini sangat mengkhawatirkan. Bukankah mie instan tidak beda dengan nasi? Tapi kenapa disejajarkan dengan lauk pauk? Jawabnya, itulah yang terjangkau oleh taraf mampu dan sadar gizi kebanyakan warga Bona Pasogit saat ini, terutama di pelosok-pelosok.
Bila demikian – dengan asupan gizi dan yang pasti juga dengan pendidikan dan kesehatan yang minim – kualitas SDM seperti apakah yang mungkin kita harapkan dari anak-anak balita dan usia sekolah yang tumbuh seperti itu? Tidakkah mereka akan menjadi the lost generation pada 10 atau 20 tahun ke depan?
Contoh diatas hanyalah sedikit atau merupakan puncak dari gunung es ketertinggalan Bona Pasogit. “Lho, bukankah di Bona Pasogit sudah berkembang kopi Sigarar Utang?” Ada pula mega-industri yang gaji karyawannya saja puluhan miliar setiap bulan; belum lagi fee dan hibah yang dikucurkannya setiap tahun! Industri menengahpun mulai tumbuh! Out-let Kacang Sihobuk sudah sampai ke plaza modern di Jakarta. Sekolah atau perguruan tinggi unggulan sudah berdiri. Apakah itu semua bukan indikator kemajuan?
Betul! Banyak kemajuan di Bona Pasogit! Tetapi perlu dicermati, siapakah yang mengambil manfaat paling banyak dari perubahan-perubahan tersebut? Pernahkah kita dengar keluhan petani Bona Pasogit (Baca : yang sebenar-benarnya petani) bahwa kavling mereka semakin hari semakin digerogoti para petani berdasi? Pernahkan kita tanyakan siapa pemilik kebun-kebun dengan ribuan batang kopi disana? Atau kebun jeruk yang berhektar-hektar itu? Dari mana pasokan kebutuhan pokok senilai miliaran rupiah yang dibeli para karyawan mega-industri tadi? Dari mana asal souvenir yang dijual di kawasan Salib Kasih? Dari mana bahan baku Kacang Sihobuk? Dari mana pakan dan bibit ikan keramba yang di Danau Toba? Apakah ratusan hektar lahan tidur di kawasan Silangit sana masih milik penduduk setempat? Dimana sekarang putra-putri terbaik Bona Pasogit itu berkiprah? dst.. dst. Jawabannya : orang atau daerah lain (baca : dari, ke atau di luar Bona Pasogit). Yang tersisa bagi penduduk setempat hanya kavling-kavling marginal atau sebatas upah memburuh, bahkan tidak jarang sekedar uap na so marimpola. Dalam bahasa ekonomi, yang tercipta adalah disparitas (kesenjangan); bahasa sosial: brain drain; dan bahasa kultural: eksklusifisme.
Dengan kenyataan seperti itu wajar Bona Pasogit tarlungun-lungun, bahkan tarhirim. Mengapa? Karena sesungguhnya kondisi tersebut tidak perlu terjadi sekiranya, pertama, penghuni Bona Pasogit mampu menjalankan kegiatan ekonomi yang berbasis kepada sumberdaya setempat, bukannya terkondisikan untuk menjadi tergantung kepada masukan-masukan dari luar yang sangat padat modal. Kedua, sekiranya program-program yang ditawarkan oleh lembaga atau instansi setempat (termasuk gereja) lebih berorientasi kepada pemberdayaan masyarakat bukannya menjejalkan apa yang bisa atau suka mereka lakukan. Ketiga, sekiranya sekian banyak anak-anak terbaik Bona Pasogit yang sudah berjaya itu memiliki kepedulian sejati bukannya lebih menempatkan Bona Pasogit sebagai objek bagi pemuasan naluri pasombu tagas-nya atau ambisi untuk patudu haboion-nya. Keempat, sekiranya para kapitalis-kapitalis yang katanya berbaik hati dan berjiwa mulia itu lebih mengarahkan modalnya untuk menciptakan pasar bagi produk-produk setempat bukannya menjadikan Bona Pasogit sebagai ceruk pasar bagi produk dagangannya.
Sederet sekiranya yang lain masih bisa dikemukakan. Namun kalau saja ke-empat harapan di atas bisa terwujud maka lungun dan hirim Bona Pasogit akan terobati. Lebih dari pada itu, dampaknya akan menakjubkan karena menjadi pamurnas tu daging saudara tu bohi, sipalomak imbulu sipaneang holi-holi. Dalam bahasa ekonomi itulah yang disebut hadumaon. Dalam bahasa sosial yang didambakan Bona Pasogit adalah kepedulian yang menyembuhkan.
3. Mengapa Kita Harus Peduli dengan Bona Pasogit?
Salah satu naluri manusia adalah kecenderungan untuk menempatkan diri kedalam kelompok (group). Dasar atau acuan yang digunakan untuk itu adalah taraf kepemilikan akan sesuatu yang dinilai berharga, di antaranya identitas. Penanda identitas bisa berupa asal-usul, marga, nama, profesi, simbol tertentu dll. Akan tetapi yang paling hakiki dan universal sifatnya adalah asal usul (Bahasa Batak : haroroan). Asal usul bisa merujuk kepada silsilah atau tanah leluhur berikut kultur yang diwariskannya. Dengan demikian Bona Pasogit – tanah leluhur identitas Halak Hita – adalah representasi atau setidaknya merupakan bagian dari identitas Halak Hita. Simbol identitas inilah yang sering tercemar oleh ulah segelintir oknum.
Sesuai karakternya, suka tidak suka, Halak Hita sering dinilai dekat dengan hal-hal yang berbau kekerasan, bahkan kriminal. Sebenarnya jumlah Halak Hita yang berperilaku halus dan baik, bahkan yang berjasa bagi bangsa ini, jauh lebih banyak dibanding segelintir pelaku tindakan menyimpang itu. Tapi, begitulah manusia. Ulah segelintir oknum bisa menjadi representasi citra atau reputasi, bahkan menjadi stigma bagi suatu komunitas. Itu adalah hukum alam. Orang bijak berkata: ”Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”. Ompung kita membahasakannya dengan umpama ”Maraprap na so magulang”.
“Ahh, saya lahir dan besar di parserahan koq, ngapain ulah par-Bona Pasogit dikait-kaitkan dengan saya!” atau “Emang Gue Pikirin!” kata si Poltak si-Raja Minyak. Kita boleh saja berkelit seperti itu. Tapi apa reaksi kita ketika a mendengar sebuah marga disebut-sebut pada acara TKP, Patroli atau Sergap? Atau, tidak terusikkah harga diri kita bila banyak yang mengkaitkan copet atau palak dengan orang Batak? Tidakkah kita risih membaca kalimat : Rumah ini dijual. Tanpa Perantara. (NB : Kecuali orang Batak).
Kenapa stereotype seperti itu muncul? Andil siapakah itu? Pembaca – terutama yang tinggal di Bona Pasogit – mohon tidak tersinggung bila kami berpraduga bahwa timbulnya pandangan sinis tadi berpangkal di Bona Pasogit yaitu ketertinggalan ekonomi yang diperparah oleh kemunduran sosial dan kultural. Karena ketertinggalan itu maka kebanyakan Halak Hita yang eksodus ke kota (mangaranto) berangkat dengan modal pas-pasan, baik jasmani maupun rohani. Itulah yang disebut Batak Tembak Langsung yaitu merantau, terutama sejak era 90-an, dengan modal nekad dan motif karejo aha pe taho asal unang di huta bukan asal unang manangko.
Dengan kualifikasi seperti itu maka pada akhirnya peluang kerja terbesar bagi mereka adalah sektor-sektor yang mengandalkan otot, bahkan sering mengedepankan kenekadan. Sektor-sektor ini galibnya dekat dengan kekerasan serta sarat dengan ketidakteraturan, ketidakmemadaian dan ketidakpastian pendapatan (Baca : Marhais manogot, martuduk botari). Siapapun yang hidup dengan pola ekonomi seperti itu akan mudah tergoda menghalalkan segala cara.
Pembaca boleh tidak setuju dengan argumen di atas dengan alasan toh siatuasi seperti itu terjadi bukan hanya pada Halak Hita. Akan tetapi itu tidak bisa kita gunakan sebagai alasan untuk tidak peduli dengan Bona Pasogit. Biar bagaimananpun keterkaitan dan keterpengaruhan citra serta reputasi setiap Halak Hita tidak mungkin lepas dari Bona Pasogit sekalipun mungkin ada yang berdalih : “Ah, saya orang Indonesia koq, ngapain repot-repot dengan identitas etnis!” Itu sah-sah saja. Tetapi, sekiranya sikap Anda demikian, apa jawab Anda terhadap pertanyaan : “Indonesia yang manakah Anda?” Bali-kah? Jawa-kah? Minang-kah? Batak-kah? Tanpa merujuk ke salah satu daerah, etnis, komunitas, budaya atau adat yang ada di Indonesia maka ke-Indonesia-an Anda meragukan. Kenapa demikian? Karena sesungguhnya Indonesia itu tidak ada, yang ada adalah kumpulan pulau, daerah, etnis, komunitas, budaya atau adat yang secara bersama-sama eksis di wilayah NKRI.
Mungkinkah kita bermetamorfosis agar penanda etnisitas kita berganti? Seseorang boleh saja mendapat pengakuan atau diterima menjadi anggota etnis atau komunitas di luar milik aslinya, namun pada domain tertentu dia akan menjadi the outsider dan tetap sebagai out-group bagi kelompok tersebut. Para leluhur kita sudah paham hal tersebut sebagaimana mereka ingatkan melalui kata-kata bijak : Ndang dao tubis sian bonana. Tandaon do hau sian parbuena. Maka, bila buah pohon identitas Anda adalah ketidaktahuan atau pengabaian – apalagi pengingkaran – terhadap asal usul Anda maka “Na lilu-lah Anda. Bagi orang Batak, seseorang yang tidak tau atau tidak jelas haroroan-nya disebut na lilu. Orang Batak sejati, dan kami yakin juga etnis lain, tidak sudi disebut na lilu. Suatu penistaan itu baginya. Jadi, suka tidak suka, Bona Pasogit akan selalu melekat sebagai bagian dari identitas Halak Hita.
Argumen sederhana di atas rasanya cukup memadai untuk menjawab pertanyaan mengapa mengimplementasikan kepedulian kepada Bona Pasogit perlu dan mendesak. Karena, siapakah yang mau simbol identitasnya babak belur? Siapakah yang tidak gundah Bona Pasogitnya dijuluki daerah tertinggal? Siapakah yang rela tanah leluhurnya digerogoti para kapitalis pemburu rente? Siapakah yang tidak gelisah ketika ibu pertiwinya tarlungun-lungun? Tidak ada, kecuali na lilu.
4. Daon ni Lungun & Hirim Bagi Bona Pasogit
Salah satu pesan orang tua penulis ketika kami mau berangkat kuliah dulu adalah “Sipata baen suratmu, asa adong daon ni sihol!”. Lalu, setelah penulis mulai bekerja pesan beliau ditambahi : “Sipata kirim sagetep sian gajimi, asa sombu hirim? Ketika anak pertama kami baru lahir – saat itu di Jawa Tengah - isi surat beliau menjadi “Hatop kirim foto ni pahompui!
Pembaca yang budiman, makna apakah yang tersirat dibalik kalimat-kalimat tersebut? Menurut hemat kami adalah kerinduan. Setiap orangtua selalu didera oleh keinginan untuk berada dekat dengan anak-cucunya atau setidaknya tau persis bagaimana keadaan mereka. Sehatkah dia? Cukup makankah dia? Bahagiakah dia? Mirip siapakah cucuku yang baru lahir itu? Ingatkah mereka akan saya? Itulah sekelumit pertanyaan yang selalu terbersit dalam benak para orang tua. Dari kaca mata batin kami seperti itu jugalah perasaan Bona Pasogit terhadap anak-cucu-cicitnya yang di parserahan.
Bona Pasogit tau betul betapa tidak mungkin anak ranto sering-sering menjenguknya. Bona Pasogit memahami kesibukan kita manjalahi ampapaga na lumomak. Lebih dari itu, Bona Pasogit menyadari betapa tidak mungin dia menyuruh kita semua kembali dan menetap dipangkuannya. Dia tau persis ukuran kemampuan atau daya dukungnya. Untuk menghidupi yang sekarang saja nafasnya sudah tersengal-sengal, konon lagi kalau ditambah para perantau.
Bona Pasogit tetap berlapang dada walau lebih sering kita kirimi tubuh-tubuh yang sudah kaku atau tulang belulang yang sudah rapuh. Biarlah. Yang penting jasad anak-anaknya tidak terlantar. Yang membuat Bona Pasogit meratap adalah ketegaan anak ranto-nya membiarkan dia sendiri mengasuh anak-anaknya yang tidak mampu menjauh dari pangkuannya dan harus disuapinya dengan air susunya yang sudah mengering itu. Bona Pasogit mendambakan darah segar, atau setidaknya Sustagen Mama sebagaimana, misalnya, diterima tetangga jauhnya Ranah Minang melalui Gerakan Seribu Minang (Bahasa Batak : Sa-sagetep pe taho asal ris. “Ia Aek santetek na otik doi , molo sai menetek mangalantap do i). Itu doa dan andung Bona Pasogit.
Pembaca yang budiman, yang ingin kami kemukakan melalui metafora di atas adalah agar kita mulai mencoba menghayati dan mengimplementasikan makna yang tersirat didalam ungkapan tampakna do tajomna, rimni tahi do gogona yaitu kebersamaan dan kesejajaran. Bahwa banyak Halak Hita menyalurkan kepeduliannya ke Bona Pasogit, itu harus diakui dan disyukuri. Tidak sedikit Halak Hita yang merelakan uangnya sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk membangun sesuatu di Bona Pasogit. Yang sering tidak kita sadari adalah betapa dampak sebagian besar proyek-proyek prestisius tadi justru telah menumbuhkan keeksklusifan, memperlebar kesenjangan dan menyuburkan ke-iri-dengki-an di antara sesama Halak Hita, baik yang di Bona Pasogit maupun di perantauan.
Banyak juga Halak Hita menyalurkan kepeduliannya langsung kepada yang membutuhkan. Namun sayangnya, bersifat sesaat dan konsumtif, tidak ubahnya seperti bantuan dana kompensasi BBM yang disalurkan sekali tiga bulan lalu dihabiskan dalam tiga jam. Alih-alih berdayaguna, bantuan karikatif seperti itu tidak menyentuh akar permasalahan, malah memperkokoh jerat kemiskinan dan ketertinggalan. Jadi, bila ingin berdayaguna, apalagi berkelanjutan, maka kepedulian kita kepada Bona Pasogit haruslah berupa bantuan yang memberdayakan. Sifatnya bukan silean-lean karena – menurut seorang pemerhati budaya Batak – dari sononya Halak Hita tidak sudi hanya menerima, apalagi menjadi pengemis. Hutang adat dibayar adat. Molo jinalo adat ingkon garar on do adat; molo jinalo juhut ingkon lehonon dekke; molo jinalo ulos ingkon lehonon piso. Sama rasa! Take and give. Win-win solutions. Itu prinsip demokrasi sejati Bangso Batak.
Banyak yang sinis terhadap sikap Halak Hita yang selalu memposisikan dirinya sebagai anak ni raja. Sebenarnya, ketidakpahaman kitalah akar dari kesalah-kaprahan ini. Makna atau implikasi kata raja dalam bahasa Batak – tekanan pada suku kata ja bukan pada ra (frase anak ni raja seharusnya dibaca : Anak ni na raja!) – bukan penguasa atau pemerintah melainkan menunjuk kepada sikap dan kemampuan terutama untuk mengayomi sesamanya (Bahasa Batak : manarihon na pinarorotna). Itulah makna sejati harajaon menurut budaya Batak. Daripada tahta raja, struktur kemasyarakatan Bangso Batak asli lebih mengenal posisi guru atau datu (bukan dukun tapi pangubati). Penjajah Belandalah yang memperkenalkan hierarhi pemerintahan ke Tano Batak, antara lain melalui lembaga Kapala Nagari.
Agar selaras dengan prinsip dan sistim nilai seperti di atas maka menurut hemat kami fokus kepedulian kita haruslah membangun kemitraan yang saling menguntungkan – antara penduduk setempat dengan perantau – untuk mendayagunakan segala potensi yang ada di Bona Pasogit. Tidak waktunya lagi kita memberi bantuan cuma-cuma. Tidak waktunya lagi kita hanya memberikan bantuan fisik. Tidak waktunya lagi membiarkan hanya orang-orang tertentu (baca : pemodal), mengatasnamakan komunitas pangaranto, menggarap peluang usaha di Bona Pasogit. Karena kalau demikian kita akan membiarkan saudara-sadara kita menjadi buruh di ladangnya sendiri. Yang harus kita lakukan adalah membantu bagi warga Bona Pasogit agar mampu mengkreasi dan mengelola peluang usaha secara mandiri. Kita, para perantau, harus menempatkan diri sebagai mitra usaha bagi warga Bona Pasogit, bukan sebagai saingan atau sekedar pemberi lapangan kerja bagi mereka. Peluang untuk menjalin kemitraan seperti itu sangat terbuka di Bona Pasogit, antara lain melalui pranata mamahani atau mamola pinang.
Filosofi penyuluhan pertanian di Indonesia adalah berikan kail, bukan ikan, kepada petani. Filosofi inilah menurut hemat kami yang menjadi pangkal penyebab pertanian kita salah arah dan salah urus. Selama puluhan tahun petani kita dijejali kail dalam bentuk sarana produksi dan peralatan import sampai-sampai mereka tidak tau umpan apa dan dari mana harus dipakai untuk itu. Hasilnya petani kita ibarat ayam, kelaparan di atas lumbung bapi (Bahasa Batak : mauas di toru ni sampuran).
Untuk membangun Bona Pasogit, yang pilar utamanya adalah pertanian, janganlah kita ulangi kesalahan seperti itu. Yang kita lakukan haruslah memampukan petani setempat meramu umpan yang cocok (Bahasa Batak : sordit) untuk mengail di kulit bumi Bona Pasogit yang sudah kurus kerontang. Bila kemampuan seperti itu tumbuh, yakinlah produktivitas petani kita akan melimpah. Keingintahuan Halak Hita tidak perlu diragukan. Jangankan ke Tanah Karo atau Simalungun, ke negeri Jahudi sanapun Halak Hita siap belajar bagaimana cara menanam kentang atau tomat. Halak Hita tidak rela ketinggalan melainkan sangat inovatif dan kreatif sebagaimana diungkapkan peribahasa : mata guru, roha sisean.
Bila produktivitas sudah meningkat, kita bantu jugalah mereka mencari atau mencipta pasar bagi produk-produknya. Kemalasan, yang sering kita tuduhkan kepada warga Bona Pasogit, bersumber dari masalah pemasaran ini. Halak Hita pada dasarnya sangat ulet. Ketidak-berpihakan pasarlah yang membuat mereka menjadi apatis. Siapakah yang tidak apatis bila jerih payahnya berbulan-bulan lebih sering mendatangkan kekecewaan? Sekali-sekali berkunjunglah ke pasar Siborong-borong sana. Berdialoglah dengan petani. Jangan kaget bila disebutkan bahwa harga segoni sayur keriting (sekitar 25 kg) lebih sering tidak lebih mahal dari semangkuk Bakmie si Gomuk. Kalau saja modal dan tenaga yang sudah habis untuk segoni sayur tadi dibelikan ke bakmie, mungkin sang petani akan memperoleh lebih dari dua mangkok. Kalau mau jujur, kitapun akan apatis bila berhadapan dengan kenyataan seperti itu.
5. Penutup
Jou-jou Bona Pasogit berlaku bagi kita semua anak-cucu-cicit-nya. Bukan hanya yang kaya atau berpangkat, tetapi juga yang tetap bersakit-sakitan walau sudah merantau bertahun-tahun. Realistislah. Bona Pasogit masih berpotensi untuk mensejahterakan anak-anaknya asalkan kita tidak menjadi benalu apalagi membawa racun ke pangkuannya.
Akhir kata, melalui media ini ijinkan kami menyampaikan harapan Bona Pasogit kepada Universitas HKBP Nommensen. Kepadamu harapan ini lebih banyak dialamatkan agar kelak tidak menjadi menara gading bagi warga Bona Pasogit, nampak di mata namun tak teraih oleh tangannya yang kurus kering. Agar kelak tidak menjadi ibarat jelok, buahmu mengenyangkan bahkan membuncitkan perut banyak orang, tetapi – setidaknya ketika engkau masih muda – menguras air susu Bona Pasogit. Agar kelak anak-anakmu tidak menjadi si Mardan modern yang mengabaikan bahkan mengingkari ibu kandungnya karena kepincut oleh gemerincing ringgit sitio soara di parserahan. Tetaplah eling akan asal usulmu. Tetaplah menjadi (to be) parsamean ni anak ni bangsoi bukan hanya menyisakan uap na so marimpola buat Bona Pasogit. Itulah amanah statuta sejatimu. Itulah “dijou DO Au mulak” Bona Pasogit buatmu.
========================================================================================================================================
*) Penulis adalah Perantau Bona Pasogit, bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Peternakan Universitas HKBP Nommensen, Medan.
** Tulisan yang mirip pernah dimuat di Majalah Parsaoran HKBP ”Immanuel” Edisi tahun 2005. Artikel ini diedit ulang sebagai ajakan berefleksi dalam rangka menyambut Dies Natalis Universitas HKBP Nommensen ke-55 pada tanggal 7 Oktober 2009.
DIarsipkan di bawah: Opini | Ditandai: Bonapasogit, himbauan, membangun, membantu | 1 Komentar »
Posted on 1 April 2009 by Mangonar Lumbantoruan
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | 1 Komentar »