“Generasi Mie Instant”

Generasi Mie Instant

Di desa saya

1. Suatu waktu, dengan seorang anak:

Nga mangan ho? (Sudah makan?)
Nunga! (Sudah!)
Aha ingkanmu? (Apa lauknya?)
……. mie! (menyebut merek sebuah produk mie instan).

2. Suatu siang di satu rumah, masih di desa saya, ketika ayah dan ibu istrahat siang dari
kerja di ladang dan anak-anak baru kembali dari sekolah

“Lompahon jo …… mie i satongkin, asa lumangku iba mangan” suruh sang ayah.
(Masak kan dulu ….. mie itu sebentar, biar lebih lahap awak makan)

“Horeeeeeeeee…….. tabo na i. Godang lompa da uma!” teriak anak-anak.
(Horeeee, enak kali. Banyak-banyak masak ya ma!

3. Sore menjelang malam di Lapo
“Baen jo bo ….. mie i sada, painte sae inanta mangalompa” seru si ayah.

(Tolong buatkan seporsi …… mie, nunggu Ibu siap masak di rumah!)

Dengan pola konsumsi (asupan gizi) seperti di atas, performan (baca: prestasi) seperti apakah yang bisa dicapai anak-anak di atas? Tidakkah mereka berpontensi menjadi the lost generation (baca: Batak Tembak Langsung) pada 10 – 15 tahun ke depan?

MENGGERAKKAN DAN MEMBERDAYAKAN WARGA PEDESAAN MENGEMBANGKAN USAHA TERNAK (BAG. III)

BAGIAN III:

SYARAT DASAR MENJADI PETERNAK

Sampai  sejauh  ini kita sudah membahas tentang peranan  ternak  bagi manusia,  juga   makna kata  ternak,  peternakan  dan peternak. Pertanyaan sekarang sudahkah ada di antara warga   kita yang benar-benar layak disebut sebagai peternak?  Apakah mereka  berhasil? Menurut hemat kami belum atau setidaknya masih jarang. Kenapa demikian? Sekali lagi, menurut hemat kami, karena mereka belum memiliki syarat-syarat dasar untuk menjadi peternak yang berhasil.

Pengalaman menunjukkan bahwa yang  berhasil  umumnya adalah  mereka-mereka yang profesional. Seseorang dikatakan profesional   jika  mampu dan mau melakukan suatu pekerjaan  dengan  sebaik-baiknya.  Orang  yang bekerja  setengah-setengah  (bahasa  Batak :  alang-alang)  tidak  disebut profesional dan mereka  jarang sukses. Mungkin  kita pernah mendengar ungkapan berikut  :  Ai  so  ni antusan  bayo i,  alang ama-ama alang doli-doli.  Ungkapan  ini  ditujukan  kepada seseorang  yang sudah menikah namun  tingkah lakunya  masih  seperti lajang; sebagai ayah tidak  pantas  dipanuti  oleh anak-anaknya, sebagai suami tidak dapat diandalkan oleh istrinya. Pastilah dia itu seorang ama yang tidak profesional.

Syarat  keprofesionalan yang dituntut dari seseorang  agar  berhasil sangat  tergantung kepada jenis pekerjaan atau profesinya. Namun kata profesional itu sendiri bisa disandingkan dengan semua jenis profesi. Sebagai contoh guru yang profesional, petani yang profesional, sintua yang profesional, pendeta yang profesional, ayah  yang profesional,  ibu  yang profesional,  suami yang profesional,  istri  yang profesional,  dosen   yang  profesional, pacar yang profesional…… dst … dst …

Seperti  disebut  tadi, tentu saja  masing-masing  profesi   ini memiliki ciri-ciri dan menuntut persyaratan  profesionalisme yang berbeda-beda. Pada kesempatan ini yang akan kita bahas adalah  syarat-syarat menjadi peternak profesional. Apa  saja  syarat  yang harus dipenuhi  agar  seseorang  layak menjadi  peternak profesional? Untuk  itu  setidaknya ada  tiga syarat dasar yaitu:

(1) kompetensi yang tinggi;

(2) komitmen yang tinggi; dan

(3) budaya yang tepat.

3.1 Kompetensi Beternak

Kompetensi adalah  kapasitas    yang  dilandasi  oleh pengetahuan   dan  kecakapan  yang  tinggi  untuk  melakukan   sesuatu secara tepat sesuai dengan yang seharusnya. Seseorang  disebut kompeten kalau memiliki pengetahuan  dan  keterampilan; menguasai  teori  dan  praktek. Seorang pelatih  sepakbola  disebut kompeten  kalau  menguasai teori bermain bola dan terampil  pula menyepak bola. Seseorang yang hanya terampil  menggoreng bola  tetapi  tidak  menguasai   prinsip-prinsip permainan sepakbola akan sulit menjadi pemain, apalagi pelatih, yang kompeten. Hal yang  sama berlaku untuk semua profesi atau pekerjaan lain. Sudahkah  kita  menjadi ayah atau ibu yang kompeten?;  Suami atau istri yang kompeten?;  Pendeta,  Pengkhotbah,   Gembala Sidang,  Pengajar…… dst ……. dst …..  yang kompeten?

Kompetensi apakah yang harus dimiliki  untuk menjadi  peternak yang kompeten? Menurut pengalaman, paling sedikit ada tiga jenis yakni :

(1) kompetensi teknis (technical competence),

(2) kompetensi pemasaran (marketing competence), dan

(3) kompetensi finansial (financial competence).

3.1.1 Kompetensi Teknis

Seperti kami sebut tadi, ternak bisa hidup sendiri kalaupun dibiarkan berkeliaran. Malah  kalau  dilepas  mungkin mereka  akan  lebih senang. (Cara seperti ini dulu  banyak  dilakukan  di Pulau Nias untuk babi dan di Samosir untuk kerbau). Malasahnya  masih adakah areal yang tepat untuk cara seperti itu? Atau,  masih  cocokkah  kondisi kita yang sekarang  beternak  dengan  cara demikian? Bayangkan, seandainya untuk menjamu sang mertua, yang tiba-tiba  datang berkunjung dengan alasan mau nengok cucu, kita harus  buru-buru  menangkap ayam atau lomok-lomok yang bebas berkeliaran.  Harus  dikejar ke sana ke mari. Mungkin-mungkin  sang  mertua  sudah  keburu  pulang  saat  kita  berhasil menangkap  ternak tadi. Bah. Alangkah kecewanya. Mama  Ucok  pasti merajuk karena kesal.  Artinya,   sudah sulit, bila tidak mustahil, untuk  beternak  dengan cara seperti itu untuk jaman sekarang. Jadi,   kalau  ingin  beternak   maka  seseorang   harus   benar-benar memeliharanya. Memelihara berarti menyediakan semua kebutuhan ternak.   Itu  makna dari kalimat  Beternak  berdasarkan kompetensi teknis.

Yang  dimaksud dengan kompetensi teknis adalah penguasaan  atau kapasitas untuk memproduksi atau melakukan  sesuatu sesuai dengan tatacara atau prosedur yang dilandasi oleh  teori/prinsip dan teknik yang tepat.  Kompetensi teknis berarti menyangkut bagaimana sesuatu itu dilakukan atau dijalankan agar menghasilkan output yang diharapkan. Sebelum  menanam padi,  misalnya, seorang   petani seyogyanyalah menguasai prinsip-prinsip bercocok tanam   padi. Syarat-syarat apa yang diperlukan agar  padi  tumbuh  dan  berproduksi dengan baik. Selain itu  dia  harus  terampil menyediakan atau memenuhi syarat-syarat tadi, misalnya : terampil mengolah tanah,  terampil  mengatur  jarak  tanam,  terampil  mengatur irigasi,  terampil menentukan jenis, dosis dan saat pemupukan  yang  tepat dst  .. dst … Kalau semuanya itu dikuasai barulah petani tadi layak  disebut kompeten  bercocok  tanam  padi. Hal  yang  sama  berlaku untuk peternak  dan profesi-profesi lain. Aspek-aspek teknis yang harus dikuasai oleh seseorang agar berpotensi menjadi peternak handal akan kita bahas lebih mendeteil  pada Bagian IV.

3.1.2 Kompetensi Pemasaran

Bila  prinsip-prinsip teknis produksi diterapkan secara  konsekuen  dan konsisten maka dapatlah  seseorang   berharap  bahwa  usaha ternaknya    akan berhasil. Persoalan berikutnya  adalah  memikirkan pemasaran  bagi  ternak   yang sudah layak jual. Untuk itu  peternak   harus kompeten di bidang pemasaran.

Yang  dimaksud dengan   kompetensi pemasaran adalah   kemampuan untuk menemukan  secara tepat ke manakah  ternak atau produk ternak  akan laku dijual dengan harga  yang  menguntungkan, bagaimana  cara  membawanya  ke sana   dan  bagaimana  pula cara  menjualnya  kepada para calon pembeli di pasar yang  dituju.  Hanya apabila memiliki kompetensi seperti  inilah  peternak   baru mampu  menjual suatu produk secara  menguntungkan.  Kalau tidak,   mereka akan selalu menjadi korban  atau  bulan-bulanan pedagang.  Adalah  suatu kenyataan  yang     memprihatinkan bahwa  kondisi seperti itulah yang dialami oleh sebagian  besar petani  kita.  Mereka   bersusah payah menanam  tetapi  pedaganglah  yang paling banyak menikmati untungnya.

Tanaman  atau  ternak  apa yang banyak diusahai oleh warga di daerah Anda?  Menurut Anda, sudahkah  mereka  menguasai informasi ke mana dan  kepada  siapa  nanti hasil panennya akan dijual ?

Agar  tidak menjadi bulan-bulanan  tengkulak maka kita harus memberdayakan petani agar kompeten di  bidang  pemasaran.  Kita  perlu memberi perhatian yang serius  untuk mempelajari  seluk  beluk pemasaran  ini.  Kita harus berupaya memperpendek mata  rantainya. Kalau  dilakukan  sendiri-sendiri mungkin  akan  sia-sia. Tapi,  kalau  bersama-sama  maka peluang untuk  berhasil  akan  semakin besar.  Kita perlu mengajak dan mendorong  warga gereja atau desa kita untuk  berkelompok! Praktisnya, sudah waktunya kita memilih  dua atau tiga orang dari  kalangan warga   untuk menjadi duta pemasaran bagi hasil-hasil pertanian dan peternakan di desanya. Bila  telah terpilih, kita berdayakan mereka; ajak warga lainnya untuk mempercayai mereka. Masa  di  antara sekian puluh atau ratus orang warga jemat atau desa kita tidak  ada  dua tiga  orang  yang  berbakat menjadi pedagang  yang  dapat  diserahi kepercayaan?.

Memang  harus  diakui ada suatu persepsi  yang salah  di  benak   kita, khususnya  orang Batak,  tentang  urusan dagang-berdagang ini. Sejak  kecil kita sudah dihantui oleh stigma bahwa berdagang identik dengan  menipu atau  berbohong.  “Na dila partiga-tiga“, begitu yang sering  kita  dengar. Tetapi, apa memang harus demikian?  Haruskah setiap  pedagang berbohong dulu baru beruntung? Menurut hemat kami  tidak. Berdagang dengan dilandasi oleh kejujuranpun  tetap  bisa beruntung.   Malah,  sistim  perdagangan  seperti  inilah  yang   sekarang sedangkan giat-giatnya dikembangkan oleh  gereja di  negara-negara maju seperti di Jepang, Korea dan Jerman. Mereka menyebutnya fair  trade yaitu perdagangan yang berkeadilan. Tidakkah konsep ini bisa kita terapkan? Mari kita mulai mencoba!

3.1.3 Kompetensi Finansial

Setelah  sistim produksi dan sistim pemasaran dipersiapkan, maka persoalan  berikut adalah uangnya. Berapa yang  diperlukan  dan  dari  mana diperoleh?  Bagaimana   mengelolanya  agar  modal   tidak habis  sebelum  panen terjual?  Itulah persoalannya.

Bahwa uang sangat  penting untuk berusaha itu tergambar dari ungkapan para pebisnis berikut ini  : Uang adalah bibit uang!Halak hita mandok : “HMH” : Hepeng Mangalap Hepeng!

Agar  dapat menerapkan prinsip di atas secara benar maka  seseorang   harus memiliki kompetensi yang tinggi di bidang keuangan. Bagaimana dengan petani di tempat Anda? Sudahkah mereka  kompeten mengelola  keuangan  usaha taninya?  Bagaimana  pula  dengan keuangan rumah tangga kita,  kelompok kita, gereja kita ? dst .. dst ..

Yang dimaksud dengan kompetensi finansial adalah perihal  bagaimana merencanakan   atau   menghitung  jumlah  biaya  yang   diperlukan   untuk memproduksi   suatu  produk  dan   bagaimana  cara   untuk menyediakan dan mengelolanya. Jadi, misalnya, jika seorang  petani berencana memelihara 3 ekor induk babi maka dia  harus mengetahui persis sarana produksi apa saja dan  berapa jumlah masing-masing bahan yang diperlukan  untuk  memelihara ketiga  ekor induk babi tersebut. Selanjutnya dia  harus tau  berapa  uang yang  diperlukan untuk itu dan dari mana diperoleh. Kalau  tidak  demikian maka usaha ternak  tadi akan amburadul alias angin-anginan.

Mungkin  di  antara  kita ada yang berkata :  Lho,  untuk  apa repot-repot memikirkan modal. Ubi bisa ditanam sendiri oleh petani. Dedak? Di  desa kan   banyak  padi! Rumput?  Bisa  diarit sendiri! Mungkin   demikian,  tapi persoalannya adalah dengan cara seperti itu terjaminkah kecupupan dan kontinuitas bahan-bahan tersebut sepanjang  tahun? Ternak  harus makan dua atau  tiga kali sehari  sepanjang  tahun. Jadi kalau penanaman ubi tadi tidak dikelola  sedemikian rupa  maka  bisa saja akan  ada  saat-saat kosong  atau  panceklik.  Dan kalau  itu  terjadi, petani  tidak mungkin berkata  begini  kepada  ternaknya  : Sabar  jo hamu ate, minggu na ro ma hamu mangan, ndang  matoras do  pe gadong. Atau, saat dedak  habis lalu mereka bilang  begini  : Toe  ma ate, nanget-nanget ma allangi hamu nang pe so tabo ala  na  so adong  dodak i. Boha baenon,  balik marsogot pe hami manjomur! Bah, mana mau mereka  begitu.

Yang ingin kami katakan adalah kalau berani beternak  maka seseorang harus merencanakan secara seksama  pengadaan  semua  bahan-bahan  yang  diperlukan  untuk   itu. Sepanjang memungkinkan, optimalkanlah penggunaan bahan-bahan yang bisa  diproduksi sendiri. Kalau  ada bahan yang harus dibeli, harus direncanakan  sumber  biayanya secara rutin. Dalam konteks ini, itulah untungnya  kalau ada   CU (credit union) atau Usaha Simpan Pinjam. Sudahkah ada CU di desa Anda ?

3.2 Komitmen untuk Menjadi Peternak

Dari  seorang sahabat kami pernah mendapat nasehat sebagai berikut : “Pangkulingi suan-suanan mi, ai sian i do dalanmu dapot ngolu“. Nasehat di atas kami maknai sebagai berikut. Hidup berasal dari Tuhan. Hidup itu Dia berikan kepada kita melalui udara,  air  dan berbagai bahan makanan yang Dia ciptakan di bumi ini. Namun untuk itu kita harus  berusaha.  Kita  harus mengenal betul manakah  di  antara  ciptaan-ciptaanNya  itu  yang  dapat mendukung hidup kita.  Dari  pengalaman yang diwariskan oleh generasi-generasi sebelumnya kita mengetahui bahwa ciptaan Tuhan  yang berupa tumbuh-tumbuhan itu dapat kita jadikan  sebagai  sumber bahan makanan agar tubuh kita tetap hidup. Selanjutnya, pengalaman  mereka juga telah membuktikan bahwa bahan makanan dari tumbuhan  akan lebih mudah diperoleh dan lebih terjamin ketersediaannya bila dipelihara dan/atau dibudidayakan. Seterusnya, upaya budidaya tanaman akan lebih berhasil bila kita  mengenal betul tingkah laku mereka. Untuk itu, kita perlu  berbicara dengan  mereka.

Berbicara  dengan  tanaman dapat  kita  lakukan  melalui pengamatan  atas keadaan mereka. Dari sana kita akan mengetahui  bagaimana kondisi mereka, apa  yang mereka  butuhkan dan itulah yang kita upayakan. Dengan melakukan  hal demikian kita yakin mereka akan membalas jasa kita dengan produksi yang melimpah.

Hal yang sama berlaku pada ternak. Untuk sukses  beternak berikanlah  kepada  mereka apa yang mereka butuhkan, bukan apa  yang  kita inginkan. Untuk itu pangkulingi-lah mereka. Bisakah kita berbicara  dengan ternak?   Bisa.  Caranya? Pelajarilah  bahasa  mereka.  Apakah  ternak memiliki  bahasa? Ya, yaitu tingkah laku  mereka.  Ternak  berkomunikasi dengan sesamanya melalui tingkah laku tertentu. Misalnya, bila seekor anak babi  lapar, haus atau kedinginan maka dia akan  memberitahu   induknya  melalui tingkah laku tertentu. Si induk sudah paham  betul  akan bahasa tersebut dan dia akan memberi respon yang tepat.

Mampu  mamangkulingi tanaman atau ternak hanya bisa dicapai  bila seseorang  memberi  waktu dan perhatian yang cukup untuk itu. Dia  juga  harus cermat  serta sabar dan tekun melakukannya berulang-ulang. Untuk itu  dia harus memiliki komitmen yang tinggi.

Yang  dimaksud  dengan  komitmen adalah  janji, tekad  dan  kemauan   untuk melakukan sesuatu secara konsekuen dan konsisten hingga berhasil. Jadi berkomitmen itu adalah sikap  pantang mundur atau kendur walau   ada hambatan atau  meminta banyak  pengorbanan.  Kemauan adalah kunci  utama  keberhasilan.  Sebanyak apapun  sumberdaya  yang tersedia akan tetapi bila kemauan  atau  motivasi  rendah maka semua sumberdaya tadi akan menjadi sia-sia. Sebaliknya  dengan kemauan (baca: komitmen)  yang tinggi maka sumberdaya yang terbatas dapat memberi  hasil optimal.

Pemahaman  kita  tentang  makna kata komitmen mungkin  bisa semakin  mendalam  dengan  memahami makna yang tersirat  di  balik  kisah nyata berikut.  Seorang  guru saya, sekaligus panutan, yang  berprofesi  sebagai dokter hewan, pernah menceritakan pengalamannya sendiri. Suatu saat  beliau harus memilih antara tanggungjawab  sebagai  seorang suami   atau  tugas  sebagai dokter hewan. Ketika  itu  istri  beliau  akan melahirkan. Secara kebetulan, pada saat yang bersamaan, seekor induk  sapi yang menjadi tanggungjawabnya  juga mau melahirkan. Beliau sempat ragu-ragu  memilih mana  yang   harus   didahulukan. Setelah mempertimbangkan   secara  matang,  akhirnya  beliau  mengantar istrinya lebih dulu ke rumah sakit lalu secepatnya kembali  ke  rumah untuk menolong induk sapi tadi. Setelah semua beres di rumah,  beliau balik lagi ke rumah sakit. Syukurlah sang anak telah lahir dengan selamat. Tetapi istri beliau marah-marah,  katanya : “Suami macam apa kau. Sapi lebih dipentingkan dari  istri“. Lalu beliau menjawab  dengan sabar  :  “Lho! Bukankah di sini sudah ada dokter? Sedang sapi itu tadi  sayalah  dokternya.  Kalau  bukan  saya  siapa  yang   akan menolongnya?”. Bagi sebagian orang mungkin beliau itu adalah  suami  yang tegaan. Tapi dari sudut profesionalisme, beliau adalah orang yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan tanggungjawabnya.

Komitmen seperti itulah yang sangat diperlukan untuk menjadi peternak profesional. Sekali berani memulai, seseorang harus siap  mengerahkan segala  daya  upaya untuk menjalankan usaha yang dipilihnya.  Dia  tidak boleh  setengah-setengah (Bahasa batak: alang-alang) melainkan harus tekun, ulet dan tidak  mendewakan gengsi namun tetap memiliki integritas diri yang tinggi.

Persyaratan seperti di atas yang sering  menjadi masalah bagi Halak Hita, apalagi kaum ama Bona Pasogit.  Ama-ama  halak hita merasa turun  gengsinya  kalau  harus mamahan   babi (memberi  makan,  memandikan   atau membersihkan kandangnya).  Konon lagi bila  harus ikut mangkali gadongmansalong, manostos atau manuan andor. Bah, bisa kehilangan  muka  beliau-beliau  itu  kalau terlihat oleh konco-konconya.  Ya  sudah,  akhirnya semua pekerjaan tadi  jatuh ke tangan ibu-ibu. Atau paling-paling  anak-anaklah yang jadi korban. Tapi kalau sudah menyangkut uang hasil penjualan ternak,  beliau-beliau itu pasti sering bilang begini : “Bah, ai naso au  be komandan  di  jabu on?. Itulah susahnya ama-ama halak hitaEnak-nya  mau, tapi capek-nya biarlah orang lain saja.

Bagaimana dengan kaum   bapak  di desa Anda, apakah masih  demikian? Kalau mau sukses beternak  sikap seperti  itu harus  dihilangkan. Agar  sukses menggerakkan mereka untuk beternak maka mereka harus dimotivasi agar memiliki komitmen yang tinggi.

3.3  Budaya yang Tepat untuk Beternak

Budaya  mencakup hal-hal yang sangat luas. Tetapi yang kami maksudkan  di  sini  adalah sistim nilai yang kita anut. Artinya,  apa  yang  bernilai  bagi kita dalam hidup ini. Sistim nilai yang dianut seseorang akan mempengaruhi setiap keputusan yang diambilnya. Sebagai contoh, mana yang lebih  berharga  bagi seorang ayah masa depan anak-anaknya atau   gengsinya? Kalau harus memilih,  mana yang dia  utamakan antara membeli  sagalas kopi atau membeli obat cacing untuk ternak? Atau, sekali  lagi kalau  terpaksa,  siapkah seorang petani di hitaan mengurangi waktu ke lapo agar sempat mengurus ternak? Siapkah mereka  bangun tengah malam untuk  memeriksa induk babi yang baru melahirkan agar tidak menindih anak-anaknya? Anak-anak  ternak yang baru lahir  sangat rentan terhadap  udara dingin.  Jadi  perlu diberi penghangat.  Syukur  kalau  sudah  ada listrik.  Kalau  tidak,  terpaksa memasang  api,  mirip  seperti  memasang saganan ketika ibu-ibu di Bona Pasogit baru melahirkan (Bahasa batak: mainundun). Bersediakah  mereka  menyiapkan saganan bagi anak ternak  yang membutuhkan kehangatan itu?  Harus dihidupkan pula  sepanjang malam. Bersediakah mereka mengangkat air untuk memandikan ternak agar ternak tersebut tidak darangon?

Mudah-mudahan  warga desa   Anda  tidak  ada lagi yang akan berkata  begini  :  “Bah, anakku aja tidak pernah kumandikan konon pula  ternak!” Atau :  “Ba haru  inanta  tundunan, inang   simatuangku  do pajaga-jaga saganan na. Ba lamu  saganan ni pinahan ma?  Tu sada i ma hamu Amang. Di hamu ma i peternakan muna i!”.

Mungkin di antara kita banyak yang menganggap pernyataan-pernyataan di atas  berlebihan. Tapi, begitulah seharusnya.  Sekali  berani mencoba MENJADI PETERNAK maka banyak yang  harus  diubah  dan  banyak  pula yang harus dikorbankan.  Pertanyaannya  adalah akankah warga desa kita bersedia untuk itu? Bersambung ke Bagian IV

MENGGERAKKAN DAN MEMBERDAYAKAN WARGA PEDESAAN MENGEMBANGKAN USAHA TERNAK (BAG. II)

BAGIAN II:

MANFAAT,  PENGERTIAN DAN POSISI USAHA TERNAK

2.1 Manfaat Ternak Sebagai Penghasil Pangan Hewani

Ternak  memiliki manfaat yang sangat penting dan  beragam  bagi manusia. Salah satu yang paling penting di antaranya adalah menghasilkan  pangan  hewani (daging, susu dan telur).  Dibanding bahan  pangan  nabati  seperti beras,  jagung, ubi dan sayur-sayuran maka  pangan hewani  memiliki berbagai keunggulan. Tiga diantaranya yang terpenting adalah sebagai berikut ini.

Pertama,  pangan  hewani mengandung  lebih  banyak  dan  lebih lengkap  zat-zat  gizi  esensil khususnya PROTEIN,  MINERAL  dan  VITAMIN. Protein  adalah  zat gizi utama yang sangat penting  bagi  tubuh manusia.  Hanya kalau memperoleh protein yang cukup maka tubuh manusia bisa bertumbuh  dan berkembang.  Protein  diperlukan  antara lain  untuk  pembentukan  sel-sel tubuh, termasuk pembentukan sel-sel otak. Bila seseorang kekurangan protein, terutama  saat bayi dan fase pertumbuhan maka sulitlah bagi dia mencapai pertumbuhan yang optimal. Lebih daripada itu, bila kekurangan protein berlangsung sejak masa kandungan  maka   pertumbuhan dan perkembangan otaknyapun  ikut  terhambat. Dampaknya adalah   kecerdasannya akan rendah sehingga kemampuan  belajarnyapun terbatas. Bersamaan dengan itu, sistim kekebalan tubuhnya  akan  lemah sehingga mudah terserang penyakit.

Jadi,  kalau di antara kita – mudah-mudahan tidak -  ada  yang mempunyai  anak kurang cerdas dan/atau gampang sakit maka yang salah bukan si  anak tersebut melainkan  kita orangtuanya. Kitalah mungkin yang   tidak  mampu (atau mungkin tidak mau)  memberi  mereka gizi  yang cukup.  Mungkin  saat mengandung, ibunya tidak memperoleh gizi  yang  cukup sehingga tidak mampu menyediakan semua kebutuhan gizi si  janin.  Mungkin pula  sewaktu masa bayi si anak tidak memperoleh ASI yang cukup  karena ibunya  tidak  mampu  memproduksi ASI yang banyak.  Kekurangan  gizi  akan membatasi produksi ASI. Oleh sebab itu,  kalau seorang ibu yang sedang menyusui makan hanya sedikit, atau kalaupun banyak tapi  kurang bergizi, maka  produksi ASI-nya  akan  sedikit. Jadi, dari penjelasan tadi dapatlah kita terima kesimpulan hasil berbagai  penelitian bahwa  tingkat kecerdasan  seorang anak ditentukan sebagian besar oleh kecerdasan  dan  kesehatan ibunya.  (Mudah-mudahan  para ayah tidak  tersinggung, dan mudah-mudahan para ibu semakin menyadari apa dan siapa dia bagi anak-anaknya, setelah membaca kesimpulan ini).

Kembali ke topik protein tadi, tubuh manusia tidak mungkin memperoleh protein  yang  cukup kalau hanya makan nasi, ubi, jagung, sayur  dan bahan makanan  lain  yang berasal dari tumbuhan.  Hanya  kalau  di  dalam menu sehari-hari kita terdapat pangan hewani, baik  asal  ternak maupun  asal  ikan,  tubuh  kita  memiliki  kesempatan  memperoleh cukup protein, sekaligus  zat gizi lain yang juga  esensil  seperti  mineral  dan vitamin. Dengan demikian maka  kita  dapat  menerima kesimpulan  berikut  bahwa  produk ternak amat  penting  bagi  terciptanya manusia  yang bertubuh sehat dan berotak  cerdas.

Negara-negara  maju  terbangun dari masyarakat  yang sehat dan  cerdas. Masyarakat  seperti ini   hanya bisa  tercapai  bila  konsumsi  gizinya cukup.  Dan itu akan tercapai bila produksi  ternak  melimpah (Bahasa  Batak  :  Sinur pinahan). Karena alasan ini  kembali  kita  dapat menerima kesimpulan bahwa beternak  adalah pekerjaan mulia karena  bertujuan  menghasilkan bahan   yang  sangat  penting untuk  pembentukan bangsa dan karakter suatu negara.  Dalam  bahasa asing  disebut :  Animal production  is essential  for  nation and character building. Oleh sebab itu wajar pula bila kita memberi salut kepada para peternak.

Satu  lagi pesan  yang  amat   dalam  maknanya dan  perlu kita renungkan dikaitkan dengan bahasan tadi adalah tona ni Ompui DR. I. L. Nommensen : DANG TARPAJONGJONG HAMU HARAJAAON NI DEBATA DI TONGA-TONGA NI HAOTOON.

Keunggulan  kedua adalah  nilai  biologis yang  tinggi. Yang dimaksud dengan nilai biologis adalah jumlah  zat  gizi yang  dapat dicerna dan diserap oleh saluran pencernaan  dari    yang ada di dalam suatu bahan makanan.  Perlu  diketahui bahwa tidak semua zat gizi yang  kita  konsumsi  itu dapat  diambil  oleh  saluran pencernaan. Selalu  ada  yang  tersisa  dan akhirnya terbuang. Semakin tinggi nilai biologis suatu bahan makanan  maka semakin banyak zat gizi yang dapat diambil darinya. Kenapa  pangan hewani lebih bagus? Pangan  hewani umumnya mengandung lebih sedikit  serat  kasar dibanding  pangan nabati. Kandungan serat kasar inilah yang menjadi  biang keladinya.  Serat  kasar  akan menghambat aksi  saluran  pencernaan  untuk memproses bahan makanan. Semakin tinggi kandungan serat kasar semakin sulit  bahan makanan dicerna. Namun  perlu diingat  bahwa  serat kasar itu tidak selamanya merugikan. Dalam jumlah tertentu serat harus ada dalam menu  kita sehari-hari agar proses  pencernaan  (terutama  untuk pengeluaran sisa makanan) berjalan lancar.

Keunggulan   ketiga adalah  aroma   dan citarasa  yang  enak  sehingga merangsang selera makan (Bahasa Batak : pa  ro  ijur), bahkan ketika kita sedang kurang sehat. Sewaktu masih kanak-kanak kami jarang  makan daging, paling saat ada tamu,  pesta  atau ada  ternak  yang mati. Tapi kalau  sudah  sakit maka bolak-baliklah orangtua  kami menawarkan : Boha! Seatonta   manuk i   asa lakku indahan i allangon mu?”. (Mudah-mudahan  tidak ada lagi di antara kita yang baru menawari anak-anaknya makanan  lezat dan bergizi setelah mereka sakit).

Kemampuan  pangan hewani membangkitkan selera  makan  terletak pada  kandungan zat flavor-nya yang tinggi dan citarasanya yang unik.  Zat flavor adalah senyawa-senyawa penyebab aroma. Zat-zat inilah yang ditangkap  oleh  indra penciuman  sehingga kita  dapat  mengetahui apakah  suatu  benda  itu  beraroma  harum,  berbau  busuk  atau   tengik. Sedangkan citarasa adalah kesan yang ditangkap oleh indra pengecap (lidah) dari  suatu  benda. Lidah manusia mengenal 4 rasa utama  yaitu  manis, pahit,  masam  dan  asin.  Kombinasi aroma  dan  citarasalah  yang membangkitkan, atau sebaliknya menghilangkan,  selera makan kita.  Zat-zat pemberi  aroma ini akan menguap bila dipanaskan. Itu sebabnya kita  lebih berselera melihat makanan hangat dibanding yang  dingin. Halak Hita membahasakannya dengan ungkapan : “Taallangkon bo, binsan las!”.

Mudah-mudahan  dengan  penjelasan  di atas semakin  kita  sadari  dan hayati  betapa  berharga  sumbangan ternak itu bagi  manusia.  Dan, berbahagialah   mereka-mereka yang mau bersusah payah beternak karena telah berjasa menyediakan sesuatu yang berharga bagi bangsa ini. Jadi ala ni tadok ma tu angka dongan na totop radot marpinahan : “Unang  pintor   mandele  hamu  molo apala loja pe na marpahan-pahanan i”.

2.2 Pengertian Ternak

Bagi petani pedesaan kita,   beternak  bukan  hal  asing karena  sudah  dilakoni  secara  turun temurun. Namun, apakah mereka benar-benar peternak? Sebagian besar belum! Hal ini dapat dilihat baik dari tatacara  beternak  maupun  dari  penampilan  ternak-ternak   mereka; umumnya masih  jauh dari yang diharapkan. Kami berpendapat bahwa sebenarnya hanya sedikit dari peternak kita yang  layak  disebut  sebagai PETERNAK. Bahwa  banyak  di antara mereka tetap  merasa  untung walau  kondisinya seperti itu,  itu tidak perlu  dipungkiri.  Namun keuntungan  tersebut  sebenarnya  belum optimal. Kalau  begitu,  siapakah yang pantas disebut sebagai PETERNAK?  Kriteria apa yang harus dimiliki agar seseorang layak menyandang gelar tersebut?

Ternak adalah   hewan namun  tidak  semua  hewan  disebut ternak. Hewan adalah  semua binatang,  yang  jinak atau liar (Bahasa Batak : nasa  na manggulmit dohot na manjirir di sisik ni tano, nang na  di bagasan aek rodi  na  habang martonga-tonga langit). Hewan   dibedakan antara yang liar dan  yang dipiara.  Hewan  liar tidak mengalami  campur  tangan  manusia. Sedangkan hewan piara menerima, bahkan sangat tergantung kepada,  campur tangan  manusia. Hewan  piara dapat  dibedakan antara hewan  ternak dan hewan   kesayangan.   Hewan  ternak  -  disingkat  ternak   (Bahasa Inggris :  livestock = cadangan  hidup)  -    hidup dan kehidupannya dikendalikan oleh manusia untuk tujuan-tujuan  produktif  dengan  memperhitungkan  motif  ekonomi. Sedangkan hewan kesayangan  (pets  animals) adalah  hewan  yang dipelihara terutama  untuk  tujuan-tujuan  kesenangan, kepuasan  pikiran  atau hobby tanpa terlalu  memperhitungkan  aspek  untung ruginya; yang penting senang.

Mengapa hewan liar diubah menjadi ternak? Sebenarnya walau tetap liar, hewan tetap dapat  berguna   untuk memenuhi berbagai keperluan manusia. Namun  dengan meningkatnya  populasi dan  berkembangnya kebutuhan manusia maka mengandalkan hewan buruan  tidak dapat lagi dipertahankan. Oleh sebab itu, secara sadar atau tidak, manusia perlu  memberi campur tangan untuk mengatur kehidupan hewan  agar  dapat berproduksi  lebih  baik dan – yang juga penting -   tersedia saat diperlukan.

Aspek apakah yang diatur atau dikendalikan oleh mansia dalam kehidupan ternak ? Semua aspek!. Namun yang paling  pokok adalah :

  1. Makanan. Penyediaan dan pemberian makanan diatur oleh manusia.

  2. Perkembangbiakan. Perkembangbiakan ternak  diatur  oleh manusia  agar keturunannya  lebih baik. Sifat-sifat  jelek   induk dihilangkan   atau  setidaknya  dikurangi  dengan  melakukan   seleksi sehingga  keturunannya   lebih  unggul  dan  lebih  berdayaguna   bagi kebutuhan manusia.

  3. Tatalaksana. Ternak   tidak dibiarkan   bebas  melainkan  disediakan   tempat   agar  manusia  mudah   menjangkaunya  saat melakukan pemeliharaan, pengawasan penyakit dll.

Berkembang  dari  makna  kata  ternak  tadi  maka   kata peternakan dapat kita artikan sebagai semua daya upaya atau campur  tangan manusia  terhadap  ternak  dan lingkungannya  dengan  tujuan  meningkatkan dayaguna  ternak  tersebut bagi pemenuhan  kebutuhan  manusia. Selanjutnya, kata peternak dengan mudah pula bisa kita pahami sebagai orang yang menjalankan kegiatan peternakan. Peternak adalah  orang yang  betul-betul memberi campur tangan bagi  kehidupan  ternak-ternaknya, jadi bukan sekedar memiliki tanpa mempersoalkan apakah  kebutuhan hidup ternak tersebut terpenuhi atau tidak.

2.3 Posisi Ternak pada Usaha Tani Pedesaan (Baca: Bona Pasogit)

Seperti telah disebut di atas, memelihara ternak  adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan petani pedesaan. Petani kita umumnya mempraktekkan pertanian terpadu di mana tanaman dan ternak, kadang-kadang juga ikan, dibudidayakan secara bersama-sama oleh seorang keluarga petani. Namun dalam kenyataannya  usaha ternak  yang dikelola oleh kebanyakan  petani kita masih jauh tertinggal atau tradisional. Kenapa demikian ? Tentu saja banyak faktor yang dapat menjadi penyebabnya. Namun satu hal yang diyakini menjadi kunci penyebabnya terletak pada diri petani itu sendiri yaitu sikap atau cara pandangnya terhadap usaha ternak tersebut, khususnya menyangkut posisi  usaha ternak dalam usaha taninya.

Hampir seluruhnya petani kita menempatkan atau memposisikan usaha ternak sebagai usaha sampingan. Dengan posisi seperti itu maka sumberdaya (lahan, modal, waktu, dan pikiran) yang dicurahkan ke usaha ternak juga statusnyat  sampingan yaitu apa yang  tersisa (Bhs Batak : lobi-lobi manang eba-eba) dari usaha tani tanpa mempersoalkan apakah sisa-sisa tadi dapat mencukupi kebutuhan ternak agar  mampu berproduksi secara optimal. Dengan demikian tidak mengherankan mengapa produktivitas ternak-ternak yang dimiliki petani kita rendah.  Bagaimana mungkin usaha yang tidak dimodali mampu memberi keuntungan besar! Bagaimana mungkin usaha yang diurus asal-asalan mencapai efisiensi optimal!

Selain diposisikan sebagai usaha sampingan, usaha ternak oleh  mayoritas petani pedesaan kita juga dipandang  sebagai tabungan. Dengan peran seperti itu maka ternak baru  dijual ketika  petani  memerlukan uang tunai yang mendesak  tanpa mempersoalkan apakah ternaknya sudah terlalu tua atau malah masih terlalu kecil. Pada hal, semakin tua usia ternak maka efisiensi produksinya makin menurun. Sebaliknya, bila dijual terlalu muda  potensi produksinya belum tercapai.

Bila menginginkan sumbangan  yang lebih besar dari usaha ternak maka posisi dan perannya di dalam sistim usaha tani harus ditingkatkan.  Dalam konsep  Pembangunan Peternakan dikenal 4 (empat) skala usaha ternak ditinjau dari posisi dan peranannya dalam sistim usaha tani, yaitu :

  • Usaha Sampingan bila sumbangannya terhadap  total penghasilan  keluarga petani < 30%.

  • Cabang  Usaha bila sumbangannya terhadap total penghasilan keluarga petani 30% – 70%.

  • Usaha Pokok bila sumbangannya terhadap penghasilan total keluarga petani  >  70%.

  • Usaha Industri bila sumbangannya terhadap penghasilan total keluarga petani  100%.

Menurut pengalaman, agar usaha ternak bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan yang handal maka skala usaha yang harus dipilih setidaknya  cabang usaha. Salah satu konsekuensinya adalah sebanyak 30 – 70%  semua sumberdaya (lahan, waktu, modal dll) yang dimiliki petani harus dicurahkan ke usaha ternak. Pertanyaan : siapkah petani Bona Pasogit memenuhi syarat tersebut? Bersambung ke Bagian III

MENGGERAKKAN DAN MEMBERDAYAKAN WARGA BONA PASOGIT MENGEMBANGKAN USAHA TERNAK

BAGIAN I. PENDAHULUAN


Hingga kini sebagian besar petani Bona Pasogit masih mengharapkan agar makna falsafah Gabe Na Ni Ula Sinur Na Pinahan terwujud dalam usaha taninya. Namun kondisi yang ada sudah tidak sepenuhnya lagi mendukung terciptanya kondisi ideal tersebut. Memang dahulu ketika daya dukung lingkungan masih tinggi – lahan masih subur, iklim bersahabat, air dan tenaga kerja melimpah – maka produktivitas usaha tanipun tinggi sehingga jumlah panen melebihi kebutuhan manusia. Oleh karenanya sebagian dari hasil panen (terutama ubi-ubian) dapat disisihkan untuk ternak. Selain itu, perkembangan usaha ternak didukung pula oleh melimpahnya hasil ikutan dan limbah tanaman serta masih luasnya lahan kosong, termasuk areal penggembalaan. Namun saat ini, kondisi seperti itu sudah tinggal kenangan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan pangan, papan dan sandangpun meningkat. Untuk memenuhi itu semua maka semua sumberdaya – terutama lahan, hutan, hewan dan air – dieksploitasi secara ekstraktif. Produksi pertanian dipacu melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

Karena dijalankan secara kurang arif maka program intensifikasi telah menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain menurunnya kualitas lahan pertanian sehingga produktivitasnya semakin merosot. Jangankan untuk kebutuhan ternak, bahkan untuk kebutuhan petani sekalipun sering hasil panen tidak lagi cukup. Pada saat yang sama, dampak negatif program ekstensifikasi juga tidak kalah hebatnya antara lain bencana banjir dan longsor, turunnya kualitas dan ketersediaan air dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Pada kondisi seperti di atas maka peluang untuk mengembangkan usaha ternak menjadi terbatas. Dengan kata lain makna falsafah tadi sudah tidak mungkin lagi diterapkan. Oleh sebab itu, menurut hemat kami, falsafah ini perlu direformasi menjadi “Tapasinur pinahan asa gabe na taula”. Implikasinya, untuk kondisi sekarang pengembangan usaha ternak perlu ditempatkan sebagai starting point dalam upaya peningkatan produktivitas dan sekaligus peningkatan penghasilan petani di Bona Pasogit.

Ada beberapa alasan mengapa strategi pembangunan yang menempatkan pengembangan usaha ternak sebagai starting pointnya dinilai efektif untuk menaikkan tingkat penghasilan petani di Bona Pasogit. Tiga di antaranya yang menurut hemat kami paling penting adalah sebagai berikut.

Pertama, Halak Hita – di manapun berada – adalah konsumen yang sangat gemar dengan produk ternak khususnya daging, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk adat atau upacara budaya lainnya. Fakta menunjukkan, walau ternak babi hampir punah dari Bona Pasogit akibat wabah Hog Cholera pada tahun 1994 hingga 1996 yang lalu, namun sangsang atau tanggo-tanggo tetap tersedia di rumah-rumah makan atau di pakter tuak setempat; demikian juga kehadirannya di pesta-pesta tidak berkurang intensitasnya. Memang, untuk keperluan adat Halak Hita rela mengorbankan uang yang sudah susah payah dikumpulkan selama bertahun-tahun; dan bagian terbesar dari biaya pesta ini – setidaknya di Bona Pasogit – adalah untuk membeli ternak. Dengan demikian, bila usaha ternak berkembang di Bona Pasogit maka penghasilan penduduk dari luar sub-sektor peternakan dapat dihemat atau setidaknya dapat dicegah agar tidak terkuras ke daerah lain untuk membeli ternak.

Kedua, saat ini tingkat kesuburan lahan di Bona Pasogit sudah sedemikian parah sehingga hampir tidak mungkin lagi memperoleh panen yang memadai tanpa pemupukan intensif. Petani umumnya lebih memilih cara praktis yaitu menggunakan pupuk sintetik. Selain menguras modal, cara ini ternyata juga meninggalkan berbagai ekses negatif terhadap lingkungan terutama kualitas lahan dan air. Dampak seperti ini bukannya tidak disadari oleh petani namun mereka tidak memiliki alternatif. Mau menggunakan pupuk kandang mereka tidak mampu menyediakannya karena tidak punya ternak. Bila dibeli harganya mahal. Oleh sebab itu alternatif paling ekonomis untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengembangkan ternak.

Ketiga, salah satu kendala pengembangan pertanian di Bona Pasogit saat ini adalah kelangkaan tenaga kerja karena jumlah penduduk usia produktif (lepas SLTA) sangat sedikit. Yang sedikit inipun lebih banyak memilih terjun ke sektor non-pertanian. Kelangkaan tenaga kerja ini telah dicoba mengatasinya dengan memasukkan alat-alat bantu mekanis seperti traktor. Namun sebenarnya penggunaan alat-alat ini di Bona Pasogit, menurut hemat kami, lebih didorong oleh sifat latah karena sebenarnya kurang ekonomis dan kurang praktis mengingat pemilikan lahan usaha tani per keluarga yang umumnya sempit dan kebanyakan tofografinya bergelombang bahkan berbukit. Areal dengan kondisi seperti ini itu sebenarnya lebih cocok diolah dengan tenaga ternak. Namun sekali lagi ternak untuk keperluan itulah yang sulit diperoleh.

Ketiga alasan di atas dapat menunjukkan bagaimana mendesaknya pengembangan peternakan di Bona Pasogit. Masalahnya adalah seberapa besarkah kapasitas yang dimiliki penduduk setempat untuk melakukannya? Jawabnya : terbatas – terutama teknologi, modal dan managemen. Ketiga aspek ini menjadi faktor pembatas utama bagi sebagian besar penduduk Bona Pasogit untuk mengintegrasikan usaha ternak berskala ekonomis ke usaha taninya. Dalam hal inilah kami melihat bahwa peranan gereja, antara lain HKBP, sangat strategis yaitu untuk menjembatani penduduk Bona Pasogit – yang memiliki berbagai sumberdaya potensil bagi pengembangan peternakan – dengan para perantau – yang memiliki kemampuan, dan yang lebih penting, kepedulian untuk membantu membangun kampung halamannya – agar di antara kedua belah pihak tercipta kerjasama simbiosis mutualisme; saling menguntungkan.

Patut disayangkan bahwa hingga kini gereja kita umumnya masih kurang pas menempatkan perannya dalam pengembangan ekonomi warga Bona Pasogit. Memang tidak sedikit upaya yang telah dilakukan untuk itu terutama melalui lembaga seperti Pengmas, Pelpem atau Parpem. Namun sayangnya upaya-upaya tersebut lebih bersifat karikatif karena lebih diandalkan kepada dukungan belas kasihan donatur. Ketika donasi berhenti, bisa karena berbagai alasan, maka aktivitaspun menjadi lumpuh.

Kami bukan mau mengajak agar kita alergi terhadap donatur. Yang ingin kami kemukakan adalah kalaupun pihak luar bersedia membantu, kenapa potensi yang ada pada diri kita sendiri tidak kita kembangkan? Pada hal yang modal utama gereja untuk itu hanyalah kesediaan untuk menjadi fasilitator.

DIjou DO Au MUlak

DIJOU DO AU MULAK

Mangonar Lumbantoruan*)

1. Pengantar

Kalimat  di atas adalah  judul  sebuah lagu Batak yang menggambarkan kerinduan seorang perantau ke Bona Pasogit. Sampai-sampai, saking rindunya, sang perantau  digambarkan  dihinggapi oleh bayangan bahwa orang-orang yang dikasihinya tarlungun-lungun di kampung.

Bila ingin memahami suasana seperti yang digambarkan lagu ini, dengarkan saat  dinyanyikan  Christin Panjaitan atau Joy Tobing. Putar kasetnya ketika malam sudah  senyap. Bila benar penikmat lagu Batak dan pecinta Bona Pasogit, kami yakin Anda akan merasakan   makna tarlungun-lungun setelah mendengar lagu itu. Seperti itulah   Bona Pasogit saat ini. Bukan itu saja tapi juga tarhirim sebagaimana diungkapkan Joy Tobing melalui lagu Didia do Nasida!

Seseorang akan tarlungun-lungun bila yang dikasihi atau diandalkan  tidak mau tau dengan keadaan  atau tidak memberi perhatian kepadanya.  Hati yang tarlungun-lungun itu akan semakin gundah  bila disertai  perasaan diabaikan, apalagi diingkari.  Semuanya itu pada akhirnya  akan berbaur menjadi kekecewaan yang mendalam (Baca : tarhirim) bila orang yang dikasihi atau diandalkan tersebut sebenarnya mampu mengobati kegundahan dan kegalauan tadi namun sikap mengabaikan – atau mengingkari -   membuat mereka menjadi lupa.

Kepedihan dan kegundahan Bona Pasogit terkait dengan kondisi yang dialami oleh kebanyakan  penghuninya yang serba tertinggal, baik dari segi ekonomi, sosial-politik maupun  kultural. Bahasan kami pada tulisan ini  akan lebih fokus ke sisi ekonomi dari kondisi yang kami maksudkan  tadi sedangkan sisi sosial-politik dan kulturalnya kami harapkan menjadi perhatian  bagi pembaca yang lebih kompeten untuk mengulasnya.

2. Benarkah Bona Pasogit Tarlungun-lungun dan Tarhirim?

Tanpa harus melihat angka-angka, pembaca pasti setuju bahwa kehidupan sebagian besar penduduk Bona Pasogit   jauh tertinggal dalam banyak hal. Benarkah? Kita boleh bangga  bahwa  di Bona Pasogit tidak  dilaporkan adanya  penderita busung lapar seperti  di banyak daerah lain. Akan tetapi jaminankah itu bahwa mereka  – terutama anak-anak balita dan usia sekolah – memperoleh gizi yang cukup? Pembaca, terutama  dari kalangan kesehatan, kami harap berkenan mencermati  fenomena berikut  :

Nga mangan ho….?

Nungnga……!

Aha ikkanmu……?

…. mie! (nama sebuah produk mie instan)

Dari sudut nutrisi  fenomena seperti ini sangat mengkhawatirkan. Bukankah mie instan tidak beda dengan nasi?  Tapi kenapa disejajarkan dengan lauk pauk? Jawabnya,  itulah yang terjangkau oleh taraf mampu dan sadar gizi kebanyakan warga Bona Pasogit saat ini, terutama di pelosok-pelosok.

Bila demikian – dengan asupan gizi dan yang pasti juga dengan   pendidikan  dan kesehatan yang minim – kualitas SDM seperti apakah yang mungkin  kita harapkan dari anak-anak balita dan usia sekolah yang tumbuh seperti itu?  Tidakkah  mereka akan menjadi the lost generation pada 10 atau 20 tahun ke depan?

Contoh  diatas hanyalah sedikit atau merupakan   puncak dari gunung  es ketertinggalan Bona Pasogit. “Lho, bukankah di Bona Pasogit sudah berkembang kopi Sigarar Utang?” Ada pula mega-industri yang gaji karyawannya saja puluhan miliar setiap bulan; belum lagi fee dan hibah yang dikucurkannya setiap tahun! Industri menengahpun  mulai tumbuh!  Out-let Kacang Sihobuk sudah sampai ke plaza modern di Jakarta. Sekolah atau perguruan tinggi unggulan sudah berdiri.  Apakah itu semua  bukan indikator kemajuan?

Betul! Banyak kemajuan di Bona Pasogit! Tetapi  perlu dicermati, siapakah yang mengambil manfaat paling banyak dari perubahan-perubahan tersebut? Pernahkah kita  dengar keluhan  petani Bona Pasogit (Baca : yang sebenar-benarnya petani) bahwa kavling mereka semakin hari semakin digerogoti para petani berdasi? Pernahkan kita tanyakan siapa  pemilik kebun-kebun  dengan   ribuan batang kopi disana? Atau kebun jeruk yang berhektar-hektar itu? Dari mana pasokan kebutuhan pokok senilai miliaran rupiah yang dibeli para karyawan mega-industri tadi?  Dari mana asal souvenir yang dijual di kawasan Salib Kasih? Dari mana   bahan baku Kacang Sihobuk? Dari mana pakan dan bibit ikan  keramba  yang di Danau Toba? Apakah ratusan hektar lahan tidur di kawasan Silangit sana masih milik  penduduk setempat? Dimana  sekarang putra-putri terbaik Bona Pasogit itu berkiprah?  dst.. dst.   Jawabannya : orang atau daerah lain (baca : dari, ke  atau di luar  Bona Pasogit). Yang tersisa bagi penduduk setempat  hanya kavling-kavling  marginal atau sebatas upah memburuh, bahkan tidak jarang sekedar uap na so marimpola. Dalam bahasa ekonomi, yang tercipta adalah disparitas (kesenjangan); bahasa sosial: brain drain; dan bahasa kultural:  eksklusifisme.

Dengan kenyataan seperti itu wajar  Bona Pasogit tarlungun-lungun, bahkan tarhirim. Mengapa? Karena sesungguhnya kondisi tersebut tidak perlu terjadi sekiranya, pertama,  penghuni Bona Pasogit  mampu menjalankan kegiatan ekonomi yang berbasis kepada sumberdaya setempat, bukannya terkondisikan untuk menjadi  tergantung kepada masukan-masukan  dari luar yang sangat padat modal.  Kedua, sekiranya program-program yang ditawarkan oleh lembaga atau instansi setempat (termasuk gereja) lebih berorientasi kepada pemberdayaan masyarakat bukannya menjejalkan apa yang bisa atau suka mereka lakukan. Ketiga, sekiranya sekian banyak anak-anak terbaik Bona Pasogit yang sudah berjaya itu memiliki kepedulian sejati  bukannya lebih menempatkan  Bona Pasogit  sebagai  objek bagi pemuasan naluri  pasombu tagas-nya atau  ambisi untuk  patudu haboion-nya. Keempat, sekiranya para kapitalis-kapitalis yang katanya berbaik hati dan berjiwa mulia itu  lebih mengarahkan modalnya untuk menciptakan pasar bagi produk-produk setempat  bukannya menjadikan Bona Pasogit sebagai ceruk pasar bagi produk dagangannya.

Sederet sekiranya yang lain masih bisa dikemukakan.  Namun kalau saja  ke-empat harapan di atas  bisa  terwujud  maka lungun dan hirim Bona Pasogit akan terobati. Lebih dari pada itu,  dampaknya akan menakjubkan karena menjadi  pamurnas  tu daging  saudara tu bohi, sipalomak imbulu sipaneang holi-holi.  Dalam bahasa ekonomi itulah yang disebut  hadumaon. Dalam bahasa sosial yang didambakan Bona Pasogit adalah kepedulian yang menyembuhkan.


3. Mengapa Kita  Harus Peduli dengan Bona Pasogit?

Salah satu naluri manusia adalah kecenderungan untuk menempatkan diri kedalam  kelompok (group).  Dasar atau acuan yang   digunakan untuk itu adalah taraf  kepemilikan akan  sesuatu yang dinilai berharga, di antaranya identitas. Penanda identitas bisa berupa asal-usul, marga, nama,  profesi, simbol tertentu dll. Akan tetapi yang paling hakiki dan universal sifatnya adalah asal usul (Bahasa Batak : haroroan). Asal usul bisa merujuk kepada silsilah atau tanah leluhur berikut kultur yang diwariskannya. Dengan demikian Bona Pasogit – tanah leluhur identitas Halak Hita – adalah representasi atau setidaknya merupakan bagian dari identitas Halak Hita. Simbol  identitas inilah yang sering tercemar oleh ulah segelintir oknum.

Sesuai karakternya, suka tidak suka, Halak Hita sering dinilai dekat dengan hal-hal yang berbau kekerasan, bahkan kriminal. Sebenarnya jumlah Halak Hita yang berperilaku halus dan baik, bahkan yang berjasa bagi bangsa ini, jauh lebih banyak  dibanding segelintir pelaku tindakan menyimpang itu. Tapi, begitulah manusia. Ulah segelintir oknum bisa menjadi representasi citra atau reputasi, bahkan menjadi stigma bagi suatu komunitas. Itu adalah hukum alam. Orang bijak berkata: ”Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”. Ompung kita membahasakannya dengan umpama ”Maraprap na so magulang”.

Ahh, saya lahir dan besar di parserahan koq, ngapain  ulah  par-Bona Pasogit dikait-kaitkan dengan saya!” atau   “Emang Gue Pikirin!kata si Poltak si-Raja Minyak. Kita boleh saja berkelit seperti itu. Tapi apa reaksi kita ketika a mendengar sebuah marga disebut-sebut pada acara TKP, Patroli atau Sergap? Atau, tidak terusikkah harga diri kita bila  banyak yang mengkaitkan copet atau palak dengan orang Batak? Tidakkah kita risih membaca kalimat :  Rumah ini dijual. Tanpa Perantara. (NB : Kecuali orang Batak).

Kenapa stereotype seperti itu muncul? Andil siapakah itu? Pembaca – terutama yang tinggal di Bona Pasogit – mohon tidak tersinggung bila kami berpraduga bahwa  timbulnya  pandangan sinis tadi  berpangkal di  Bona Pasogit yaitu ketertinggalan  ekonomi yang diperparah oleh kemunduran  sosial dan kultural. Karena ketertinggalan itu maka kebanyakan  Halak Hita yang eksodus ke kota (mangaranto)  berangkat dengan  modal pas-pasan, baik  jasmani maupun rohani. Itulah yang  disebut   Batak Tembak Langsung yaitu merantau, terutama sejak era 90-an,  dengan  modal nekad dan   motif karejo aha pe taho asal unang di huta bukan  asal unang manangko.

Dengan kualifikasi  seperti itu maka pada akhirnya peluang kerja terbesar  bagi mereka  adalah sektor-sektor yang mengandalkan otot, bahkan  sering mengedepankan kenekadan.  Sektor-sektor ini galibnya  dekat dengan  kekerasan serta sarat dengan ketidakteraturan, ketidakmemadaian  dan ketidakpastian pendapatan (Baca : Marhais manogot, martuduk botari). Siapapun yang hidup dengan  pola ekonomi seperti itu akan  mudah tergoda  menghalalkan  segala cara.

Pembaca boleh tidak setuju dengan argumen di atas dengan alasan toh siatuasi seperti itu  terjadi bukan hanya pada Halak Hita. Akan tetapi itu tidak bisa kita gunakan sebagai alasan untuk tidak peduli dengan  Bona Pasogit. Biar bagaimananpun keterkaitan dan keterpengaruhan citra serta reputasi setiap Halak Hita tidak mungkin lepas dari  Bona Pasogit sekalipun mungkin ada yang berdalih : “Ah, saya orang Indonesia koq, ngapain repot-repot dengan identitas etnis!” Itu sah-sah saja. Tetapi, sekiranya sikap Anda demikian, apa jawab  Anda terhadap  pertanyaan  :   “Indonesia yang manakah Anda?” Bali-kah? Jawa-kah? Minang-kah? Batak-kah? Tanpa merujuk ke salah satu daerah, etnis, komunitas, budaya atau adat  yang ada di Indonesia maka ke-Indonesia-an Anda  meragukan.  Kenapa demikian? Karena sesungguhnya Indonesia itu tidak ada, yang ada adalah kumpulan  pulau,  daerah, etnis, komunitas, budaya atau  adat yang secara bersama-sama eksis di wilayah NKRI.

Mungkinkah kita bermetamorfosis agar penanda etnisitas kita berganti? Seseorang boleh saja mendapat pengakuan atau diterima menjadi anggota etnis atau komunitas di luar milik aslinya, namun pada domain tertentu dia akan menjadi the outsider dan tetap sebagai out-group bagi kelompok tersebut. Para leluhur kita sudah paham hal tersebut sebagaimana mereka ingatkan  melalui kata-kata bijak : Ndang dao tubis sian bonana. Tandaon do hau sian parbuena. Maka, bila buah pohon identitas Anda adalah ketidaktahuan atau pengabaian – apalagi pengingkaran – terhadap asal usul  Anda maka Na lilu-lah Anda. Bagi orang Batak, seseorang yang tidak tau atau tidak jelas haroroan-nya disebut na lilu. Orang Batak sejati, dan kami yakin juga etnis lain, tidak sudi  disebut na lilu.  Suatu penistaan itu baginya. Jadi, suka tidak suka, Bona Pasogit akan selalu melekat sebagai bagian dari identitas Halak Hita.

Argumen sederhana di atas rasanya cukup memadai untuk menjawab pertanyaan mengapa mengimplementasikan kepedulian kepada Bona Pasogit perlu dan mendesak. Karena, siapakah yang mau simbol identitasnya babak belur? Siapakah yang tidak gundah Bona Pasogitnya dijuluki daerah tertinggal? Siapakah yang rela tanah leluhurnya digerogoti para kapitalis pemburu rente? Siapakah yang tidak gelisah  ketika   ibu pertiwinya tarlungun-lungun? Tidak ada, kecuali na lilu.

4. Daon ni  Lungun & Hirim Bagi Bona Pasogit


Salah satu pesan orang tua penulis ketika kami mau berangkat kuliah  dulu adalah “Sipata baen suratmu, asa adong daon ni sihol!”. Lalu, setelah penulis mulai bekerja pesan beliau  ditambahi : “Sipata kirim sagetep sian gajimi, asa sombu hirim? Ketika anak pertama kami baru lahir – saat  itu di Jawa Tengah -  isi surat beliau menjadi “Hatop kirim foto ni pahompui!

Pembaca yang budiman, makna apakah yang tersirat dibalik  kalimat-kalimat tersebut?  Menurut hemat kami adalah kerinduan. Setiap orangtua selalu didera oleh keinginan untuk berada dekat dengan anak-cucunya  atau setidaknya tau persis bagaimana keadaan mereka. Sehatkah dia? Cukup makankah dia? Bahagiakah dia?  Mirip siapakah cucuku yang baru lahir itu? Ingatkah mereka akan saya? Itulah sekelumit pertanyaan yang selalu terbersit dalam benak para orang tua. Dari kaca mata batin kami seperti itu jugalah perasaan Bona Pasogit terhadap anak-cucu-cicitnya yang di parserahan.

Bona Pasogit tau betul  betapa tidak mungkin anak ranto sering-sering menjenguknya. Bona Pasogit memahami  kesibukan  kita  manjalahi ampapaga na lumomak. Lebih dari itu, Bona Pasogit menyadari betapa tidak mungin dia menyuruh kita  semua kembali dan menetap dipangkuannya.  Dia tau persis ukuran kemampuan atau daya dukungnya. Untuk menghidupi yang  sekarang saja nafasnya sudah tersengal-sengal, konon lagi kalau ditambah para perantau.

Bona Pasogit tetap berlapang dada  walau lebih  sering kita kirimi tubuh-tubuh yang sudah kaku atau tulang belulang yang sudah rapuh. Biarlah. Yang penting jasad anak-anaknya  tidak  terlantar.    Yang membuat Bona Pasogit  meratap adalah ketegaan anak ranto-nya membiarkan dia sendiri mengasuh anak-anaknya  yang tidak mampu menjauh  dari pangkuannya dan  harus disuapinya dengan air susunya yang sudah mengering itu. Bona Pasogit  mendambakan darah segar, atau setidaknya Sustagen Mama sebagaimana, misalnya, diterima tetangga jauhnya Ranah Minang  melalui Gerakan Seribu Minang (Bahasa Batak :  Sa-sagetep pe taho asal ris. “Ia Aek santetek na otik doi , molo sai menetek mangalantap do i).  Itu doa dan andung Bona Pasogit.

Pembaca yang budiman, yang ingin kami kemukakan melalui metafora di atas adalah agar kita mulai mencoba menghayati dan mengimplementasikan makna yang tersirat didalam ungkapan tampakna do tajomna, rimni tahi do gogona yaitu kebersamaan dan kesejajaran.  Bahwa banyak Halak Hita menyalurkan kepeduliannya ke Bona Pasogit, itu harus diakui dan disyukuri. Tidak sedikit Halak Hita yang merelakan uangnya sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk membangun sesuatu di Bona Pasogit. Yang sering tidak kita sadari adalah betapa dampak sebagian besar  proyek-proyek prestisius tadi justru telah menumbuhkan  keeksklusifan, memperlebar kesenjangan dan menyuburkan ke-iri-dengki-an di antara sesama Halak Hita, baik yang di Bona Pasogit maupun  di perantauan.

Banyak  juga Halak Hita  menyalurkan kepeduliannya langsung kepada yang membutuhkan. Namun sayangnya, bersifat   sesaat dan  konsumtif, tidak ubahnya seperti bantuan dana kompensasi BBM yang disalurkan sekali tiga bulan lalu dihabiskan dalam tiga jam. Alih-alih berdayaguna, bantuan karikatif seperti itu tidak menyentuh akar permasalahan, malah  memperkokoh jerat kemiskinan dan ketertinggalan.  Jadi, bila ingin berdayaguna, apalagi berkelanjutan, maka kepedulian kita kepada  Bona Pasogit haruslah berupa bantuan yang memberdayakan.  Sifatnya bukan silean-lean karena – menurut seorang pemerhati budaya Batak – dari sononya Halak Hita tidak sudi hanya menerima, apalagi menjadi pengemis. Hutang adat dibayar adat. Molo jinalo adat ingkon garar on do adat; molo jinalo juhut ingkon lehonon  dekke; molo jinalo ulos ingkon lehonon piso. Sama rasa! Take and give Win-win solutions. Itu prinsip demokrasi sejati Bangso Batak.

Banyak yang sinis terhadap sikap Halak Hita yang selalu  memposisikan dirinya sebagai anak ni raja. Sebenarnya, ketidakpahaman kitalah akar dari kesalah-kaprahan ini. Makna atau implikasi  kata raja dalam bahasa Batak  – tekanan pada suku kata ja bukan pada ra (frase anak ni raja seharusnya dibaca : Anak ni  na raja!) – bukan penguasa atau pemerintah melainkan menunjuk kepada  sikap dan kemampuan terutama untuk mengayomi sesamanya (Bahasa Batak : manarihon na pinarorotna). Itulah makna sejati harajaon menurut budaya Batak. Daripada tahta raja, struktur kemasyarakatan Bangso Batak asli  lebih  mengenal posisi guru atau datu (bukan dukun tapi pangubati). Penjajah Belandalah yang memperkenalkan hierarhi  pemerintahan  ke Tano Batak, antara lain melalui lembaga Kapala Nagari.

Agar selaras dengan prinsip dan sistim nilai seperti  di atas maka menurut hemat kami  fokus  kepedulian kita  haruslah membangun  kemitraan yang saling menguntungkan – antara penduduk setempat  dengan  perantau – untuk  mendayagunakan  segala potensi yang ada di Bona Pasogit. Tidak waktunya lagi kita memberi bantuan cuma-cuma. Tidak waktunya lagi kita hanya memberikan bantuan fisik. Tidak waktunya lagi membiarkan hanya orang-orang tertentu (baca : pemodal), mengatasnamakan komunitas  pangarantomenggarap peluang usaha di Bona Pasogit. Karena kalau demikian kita akan membiarkan saudara-sadara kita menjadi buruh di ladangnya sendiri. Yang harus kita lakukan adalah membantu bagi warga Bona Pasogit agar mampu mengkreasi dan mengelola peluang usaha secara mandiri. Kita, para perantau, harus menempatkan diri sebagai mitra usaha bagi warga Bona Pasogit, bukan sebagai saingan atau sekedar pemberi lapangan kerja bagi mereka.  Peluang untuk menjalin kemitraan seperti itu sangat terbuka di Bona Pasogit, antara lain melalui pranata mamahani atau  mamola pinang.

Filosofi penyuluhan pertanian di Indonesia adalah berikan kail, bukan ikan, kepada petani. Filosofi inilah menurut hemat kami yang menjadi pangkal penyebab  pertanian kita salah arah dan salah urus. Selama puluhan tahun petani kita dijejali  kail dalam bentuk  sarana produksi dan peralatan import  sampai-sampai mereka tidak tau umpan apa dan dari mana harus dipakai untuk itu.  Hasilnya petani kita ibarat ayam, kelaparan  di atas lumbung bapi (Bahasa Batak : mauas di toru ni sampuran).

Untuk membangun Bona Pasogit, yang pilar utamanya adalah pertanian,  janganlah kita ulangi kesalahan seperti itu. Yang kita lakukan haruslah  memampukan petani setempat  meramu umpan yang cocok (Bahasa Batak : sordit) untuk mengail di  kulit  bumi Bona Pasogit yang sudah kurus kerontang. Bila kemampuan seperti itu tumbuh,  yakinlah produktivitas petani kita akan melimpah. Keingintahuan Halak Hita tidak perlu diragukan. Jangankan ke Tanah Karo atau Simalungun, ke negeri Jahudi sanapun Halak Hita siap belajar bagaimana cara menanam kentang atau tomat. Halak Hita  tidak rela ketinggalan melainkan sangat inovatif dan kreatif sebagaimana diungkapkan peribahasa : mata guru, roha sisean.

Bila produktivitas sudah meningkat, kita bantu jugalah mereka mencari atau mencipta pasar bagi produk-produknya. Kemalasan, yang sering kita tuduhkan  kepada warga Bona Pasogit, bersumber dari masalah pemasaran ini. Halak Hita pada dasarnya sangat ulet. Ketidak-berpihakan  pasarlah  yang membuat mereka menjadi apatis. Siapakah yang tidak apatis bila jerih payahnya berbulan-bulan lebih sering mendatangkan kekecewaan? Sekali-sekali berkunjunglah ke pasar Siborong-borong sana. Berdialoglah dengan petani. Jangan kaget bila disebutkan bahwa harga segoni sayur keriting (sekitar 25 kg) lebih sering tidak lebih mahal dari semangkuk Bakmie si Gomuk. Kalau saja modal dan tenaga yang sudah habis untuk segoni sayur tadi dibelikan ke bakmie,  mungkin sang petani  akan memperoleh lebih dari dua mangkok. Kalau mau jujur, kitapun akan apatis bila berhadapan dengan  kenyataan seperti itu.

5.  Penutup

Jou-jou Bona Pasogit berlaku bagi  kita semua anak-cucu-cicit-nya.  Bukan hanya yang kaya atau berpangkat, tetapi juga yang tetap bersakit-sakitan walau sudah merantau bertahun-tahun. Realistislah. Bona Pasogit masih berpotensi untuk mensejahterakan  anak-anaknya asalkan kita tidak menjadi benalu apalagi membawa racun ke pangkuannya.

Akhir kata, melalui media ini ijinkan kami menyampaikan harapan Bona Pasogit kepada Universitas HKBP Nommensen. Kepadamu harapan ini lebih banyak dialamatkan agar  kelak tidak menjadi menara gading bagi warga Bona Pasogit, nampak di mata namun tak teraih oleh  tangannya yang kurus kering. Agar kelak tidak menjadi  ibarat jelok, buahmu mengenyangkan bahkan membuncitkan perut banyak orang, tetapi – setidaknya ketika engkau masih muda – menguras air susu Bona Pasogit. Agar kelak anak-anakmu tidak menjadi si Mardan modern yang mengabaikan  bahkan mengingkari ibu kandungnya karena kepincut oleh gemerincing ringgit sitio soara di parserahan. Tetaplah eling akan asal usulmu. Tetaplah menjadi (to be) parsamean ni anak ni bangsoi bukan hanya menyisakan  uap na so marimpola buat Bona Pasogit. Itulah amanah statuta sejatimu. Itulah “dijou DO Au mulak”   Bona Pasogit buatmu.

========================================================================================================================================

*)  Penulis adalah Perantau Bona Pasogit, bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Peternakan Universitas HKBP Nommensen, Medan.

** Tulisan yang mirip  pernah dimuat di Majalah Parsaoran HKBP ”Immanuel” Edisi  tahun 2005. Artikel ini diedit ulang sebagai ajakan berefleksi dalam rangka menyambut Dies Natalis Universitas HKBP Nommensen ke-55 pada tanggal 7 Oktober 2009.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!